Featured

Media Berbagi

Banyak berbagi ilmu jiwa makin bersinar.

— PamanAPiQ.com

Matematika asyik adalah cahaya peradaban. Nyalakan rasa penasaran pada generasi muda. Mari bangkit bersama!

Berbagi trik sukses jadi youtuber positif. Hanya berbekal hp kita bisa meraih sukses menjadi youtuber edukasi. Paman apiq setiap hari berbagi melakui live youtube.com/pamanapiq .

Berbagi bimbel gratis terbuka untuk semua siswa SD SMP SMA bahkan untuk yang berminat CPNS. Silakan donlot free apk myapiq di bit.ly/myapiq .

Mana mungkin 2 + 2 = 5?
Bukankah 4?
Dan masih banyak trik menarik lainnya.

Selalu berbagi melalui:

web pamanapiq.com, canel youtube.com/pamanapiq, dan apk free bit.ly/myapiq .

Ayo… berbagi untuk negeri…!

Memperbaiki Indonesia Era Parabowo-Gibran

Terdapat 5 cara memperbaiki Indonesia. Anda tinggal memilihnya: (1) revisi; (2) reformasi; (3) revolusi; (4) demokrasi; (5) kokreasi.

Proses itu tidak selalu mudah karena bisa saja penguasa menilai semua baik-baik saja. Buat apa diperbaiki?

“Pada waktu saya ditanya, mengapa MBG penting? Apakah MBG (makan bergizi gratis) itu penting? Penting sekali. Apakah MBG lebih penting dari memberi lapangan kerja? Saya mengatakan MBG lebih mendesak daripada lapangan kerja,” ujarnya dalam acara Prasasti Economic Forum di The Ritz-Carlton Pacific Place, Jakarta, Kamis (29/1/2026).” Dia adalah menteri PPN/Bappenas. (detik.com)

1. Revisi
2. Reformasi
3. Revolusi
4. Demokrasi
5. Kokreasi

Nasib rakyat beda dengan penguasa; nasib warga miskin beda dengan kaya raya; manusia perlu memperbaiki diri sepanjang masa.

1. Revisi

Paling mudah adalah revisi; memperbaiki apa yang ada. Setiap manusia yang sehat tentu ingin revisi diri; memperbaiki diri dan alam sekitar.

MBG telah berjalan di beberapa tempat mengakibatkan keracunan; maka perlu revisi agar MBG tidak meracuni siswa.

Jika ada orang yang tidak mau revisi; dia tetap bersikukuh klaim sebagai sudah benar, sudah baik, sudah tepat; maka wajar orang itu dikira sebagai tidak sehat.

2. Reformasi

Reformasi adalah perubahan besar-besaran; atau perubahan akibat peristiwa besar-besaran. Bisa saja akibat dari krisis ekonomi misal 1998; pemerintahan Soeharto (mertua Prabowo) lengser, diganti Habibie sebagai transisi, dan terpilih Gusdur sebagai presiden pasca reformasi.

Reformasi berdampak kepada pergantian pemerintahan; pergantian presiden sampai perbaikan konstitusi misal amandemen UUD. Apakah era sekarang ini akan terjadi reformasi?

3. Revolusi

Revolusi adalah perubahan besar-besaran dalam waktu singkat akibat dari persaingan kekuatan.

Tahun 1965-1966 terjadi revolusi di Indonesia. Presiden Soekarno bersaing dengan Jederal Soeharto yang menguasai militer dan beberapa pendukungnya. Akhirnya, Soeharto menang menduduki kursi presiden sampai 32 tahun masa orde baru.

Apakah jaman sekarang bisa terjadi revolusi di Indonesia? Mungkin saja. Tapi siapa yang bisa tahu?

Jabar memiliki gubernur seru yaitu KDM (Kang Dedi Mulyadi); Jogja memiliki gubernur yang melindungi rakyat yaitu Sultan Hamengkubuwono.

Rakyat bisa saja berbondong-bondong mendukung seorang gubernur yang mereka cintai; hanya misalnya. Kemudian, tokoh masyarakat mendukung gubernur itu juga; pejabat sipil mendukung gubernur itu; militer mendukung gubernur itu; mahasiswa mendukung gubernur itu. Maka revolusi bisa saja terjadi.

Revolusi bisa saja berbahaya; reformasi bisa sama berbahaya; revisi barangkali tidak berbahaya. Tetapi, revolusi bisa saja berlangsung damai. Beberapa analis menilai tahun 2001 terjadi revolusi damai di Indonesia; bahkan revolusi senyap. Pemerintahan Gusdur disaingi oleh kekuatan Mega. Lalu, MPR meninggalkan Gusdur justru mendukung Mega. Akhirnya, Mega menjadi presiden menggantikan Gusdur.

4. Demokrasi

Masalah dari tiga perubahan di atas (revisi, reformasi, revolusi) adalah tidak ada jaminan bahwa hasil akhir lebih baik dari yang awal. Kadang hasil reformasi bisa lebih buruk dari yang semula.

Demokrasi adalah pilihan yang lebih baik.

Proses demokrasi, musyawarah hikmah kebijaksanaan, adalah lebih baik dari revisi, reformasi, mau pun revolusi.

Dari riset internasional, demokrasi Indonesia adalah cacat. Solusi terbaik adalah memperbaiki proses demokrasi itu. Meski proses demokrasi adalah lebih baik tetapi hasil demokrasi bisa saja tidak lebih baik.

Proses demokrasi Indonesia lebih baik dari Singapura yang lebih cacat. Tetapi pembangunan Singapura, termasuk pendidikan, lebih baik dari Indonesia. Bagaimana pun, dalam jangka panjang, proses demokrasi yang baik akan mengarah kepada hasil yang lebih baik. Bagaimana agar demokrasi Indonesia saat ini menjadi lebih baik?

Proses demokrasi ini bisa saja seiring, atau bersamaan, dengan revolusi mau pun reformasi

5. Kokreasi

Kokreasi adalah perbaikan yang lebih baik dari sisi proses mau pun hasilnya. Panarko adalah salah satu contoh proses kokreasi yang sudah saya bahas di banyak tulisan saya.

Bagaimana menurut Anda? Proses perbaikan mana yang lebih Anda dukung untuk Indonesia saat ini? Untuk situasi dunia saat ini?

Tarzan Vs Arka: Dua Kisah Terindah

Dalam buku yang sedang proses penerbitan, saya menemukan dua kisah terindah yaitu Tarzan dan Arka. Buku ini rencana akan terbit awal atau tengah 2026 dengan tema tentang Tuhan, AI, dan manusia.

Dari Tarzan, kita akan belajar membedakan antara mendengar dengan mendengarkan. Sementara dari Arka, kita akan belajar menjadi serba pemimpin atau panarko. Kemudian, kita akan diskusi beberapa ide lanjutan.

1. Tarzan Mendengar Alam
2. Arka Memandang Senja
3. Diskusi

Cerita itu berjuta makna. Demikianlah adanya. Ada satu makna yang perlu diikat bersama. Meski ribuan makna lainnya akan selalu bermunculan di sana.

1. Tarzan Mendengar Alam

Pertama Tarzan mendengar suara itu. Kedua, Tarzan mendengarkan.

Mari kita perjelas dengan ilustrasi Tarzan. Bayangkan Tarzan berada di tengah hutan lebat. Suara-suara hutan mengelilinginya: ranting patah, burung berkicau, aliran sungai, dan suara langkah hewan lain.

Mendengar – Hearing (entendre):

Tarzan mendengar suara-suara itu dengan cepat mengenali maknanya. Ia mendengar ranting patah dan langsung memahami bahwa mungkin ada hewan atau manusia yang lewat. Ia mendengar kicauan burung dan tahu arah datangnya hujan atau waktu siang. Dalam hal ini, Tarzan “memahami” suara-suara itu sebagai tanda atau objek yang sudah dikenalnya. Mendengar di sini adalah upaya Tarzan menafsirkan dunia secepat mungkin agar bisa bertindak—mendengar untuk mengetahui, mengantisipasi, dan mengendalikan situasi.

Mendengarkan – Listening (écouter):

Sekarang bayangkan Tarzan duduk diam di atas pohon, menutup sebagian pikirannya terhadap penilaian cepat, dan membiarkan telinganya terbuka sepenuhnya. Ia mendengar suara hutan, tapi tidak langsung mencoba menafsirkan atau mengklasifikasikannya. Ia mendengarkan arus kehidupan hutan, ritme daun jatuh, suara angin, dan bahkan keheningan di antara suara-suara itu. Tarzan merasakan “makna” yang lebih dalam dari suara-suara itu—arah, pergerakan, suasana hutan—tanpa terburu-buru menamai atau mengendalikannya. Mendengarkan di sini adalah terbuka terhadap ketidakpastian dan menerima sesuatu yang belum sepenuhnya dapat dipahami.

Cukup jelas perbedaan mendengar dengan mendengarkan; perbedaan hearing dengan listening. Seberapa sering kita mendengar suara hati yang merintih? Seberapa sering kita mendengarkan? Seberapa sering kita mendengarkan suara mereka yang tak bersuara dalam derita?

2. Arka Memandang Senja

Kisah Arka bertemu denga Pak Daru menawarkan solusi sederhana dari gagasan panarko: serba-pemimpin.

Kita adalah Panarko. Di tengah hiruk pikuk kota yang pucat, Arka melangkah menyusuri trotoar seperti seseorang yang kehilangan bayangannya sendiri. Media sosial di ponselnya terus memuntahkan kabar bencana, perpecahan, adu opini yang saling memangsa—semuanya memekakkan hati. Di dunia nyata dan maya, chaos merayap seperti kabut pekat yang menutup harapan. Ia sering berdoa dalam hening: “Semoga ada arko, seorang pemimpin kuat yang datang merapikan semuanya…”

Namun ia tahu betul, zaman telah berkali-kali menunjukkan bahwa arko—pemimpin tunggal yang diagung-agungkan—sering berubah menjadi pusat kekuasaan yang menekan. Terlalu banyak orang yang buta oleh pesona pemimpin, lalu kecewa oleh kenyataan. Dan media sosial dengan akal imitasi-nya (termasuk AI: artificial intelligence) terus menyalakan ilusi: semua orang mengikuti figur yang sedang populer, menirukan amarah, menelan opini tanpa periksa. Arka pulang kampung, berharap kampungnya lebih tenang, tapi di sana pun kegelisahan berakar dalam.

Di sudut-sudut desa, sekumpulan pemuda berkumpul sambil membicarakan anarko, terpesona oleh kebebasan mutlak yang sering viral di platform mereka. Tanpa menyaring, mereka meniru gaya bicara dan keberanian palsu para influencer. Gagasan itu terdengar gagah, namun dalam kenyataan tanpa kompas, kebebasan tak membawa cahaya—melainkan bayang-bayang baru yang menakutkan. Warga makin renggang, percakapan makin dingin.

Suatu pagi yang sederhana, Arka melihat Pak Daru memaku pagar mushola sendirian. Cahaya matahari jatuh lembut di punggung lelaki tua itu, seolah mengingatkan Arka bahwa selalu ada orang yang bekerja diam-diam tanpa perlu disorot kamera. Dengan spontan ia ikut membantu. Dalam denting palu, Arka mencurahkan kerinduannya pada pemimpin besar yang tak kunjung datang. Pak Daru menatapnya lembut: “Nak, menunggu arko hanya memperpanjang masa suram. Cobalah memimpin langkahmu sendiri.”

Kata itu tak menggema keras, namun jatuh ke dalam hati Arka seperti tetes embun pada tanah tandus. Memimpin langkah sendiri. Mengapa itu terdengar lebih jujur daripada semua slogan di media sosial? Malam itu Arka merenung, dan perlahan ia mulai memahami makna panarko—bahwa setiap orang adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas dirinya sebelum memimpin orang lain.

Keesokan hari, Arka memulai sesuatu yang kecil. Ia mengajar anak-anak berhitung, membersihkan selokan yang berbau, membantu tetangga memperbaiki atap bocor. Tindakannya tak masuk trending, tak ada yang menekan tombol “like”, tapi dalam keheningan itu Arka justru merasa lebih hidup. Ia menyadari bahwa kepemimpinan bukanlah panggung, melainkan kerja hati yang tak perlu ditonton.

Perlahan, tindakannya yang sederhana menarik perhatian pemuda lain. Dio—yang selama ini hanya meniru gaya influencer desain di media sosial—menemukan jati diri lewat menggambar poster kegiatan kampung. Rani memanfaatkan ilmunya untuk membuat program makanan sehat. Bima membangun aplikasi kecil untuk koordinasi warga, bukan sekadar mengikuti tren teknologi yang viral. Tanpa arko, tanpa perintah, mereka mulai memimpin sebisa mereka masing-masing.

Dari sinergi itu, lahirlah kopanarko—sebuah suara lembut yang tumbuh dari banyak panarko yang bekerja bersama. Kepemimpinan seakan terurai menjadi butiran cahaya yang jatuh ke setiap tangan yang mau mengambil peran. Pasar sayur hidup kembali, anak-anak tertawa lebih nyaring, jalan-jalan disapu dengan cinta yang ringan. Kampung berubah seperti lukisan lama yang kembali dipulihkan warnanya.

Media sosial masih gaduh, dunia luar masih sering dipenuhi provokasi dan imitasi buta, namun kampung kecil itu telah menemukan ritme baru. Di sini, orang-orang lebih mempercayai tindakan nyata daripada unggahan. Arka menyadari bahwa untuk melawan chaos, manusia tidak membutuhkan satu arko, dan tidak pula perlu melompat ke jurang anarko. Mereka butuh keberanian untuk berhenti meniru—untuk kembali mendengarkan hati sendiri.

Sore itu, di bawah langit jingga yang meneteskan cahaya lembut, Arka duduk di tepi lapangan bersama Pak Daru. Anak-anak berlari sambil tertawa, seperti puisi yang hidup. “Pak,” kata Arka, “ternyata keselamatan bukan datang dari satu arko, atau dari bebas tanpa batas seperti anarko. Ia lahir ketika panarko saling menggenggam, berubah menjadi kopanarko.” Pak Daru tersenyum bangga. Dan Arka pun tahu, dunia yang pernah terasa gelap kini perlahan disinari oleh langkah-langkah kecil yang tak lagi meniru siapa pun—kecuali kebaikan yang tumbuh tulus dari hati.

Renungan Panarko: Arka menyadari bahwa perubahan sejati tidak lahir dari sorotan media sosial atau ketenaran sesaat. Dunia maya menawarkan kepalsuan yang manis—like, komentar, dan tren yang menyesatkan, membuat banyak orang terjebak dalam akal imitasi, meniru tanpa memahami. Namun di kampungnya, Arka belajar bahwa kepemimpinan lahir dari tindakan nyata, dari keberanian untuk memulai langkah kecil, dan dari konsistensi yang diam-diam menyalakan inspirasi.

Panarko adalah pilihan sadar, bukan sekadar reaksi terhadap hiruk-pikuk eksternal. Ia juga memahami bahwa meski arko tampak menggoda dan anarko terdengar merdeka, keduanya tidak menjawab kebutuhan hakiki manusia: keterhubungan dan tanggung jawab. Kekacauan (chaos) tidak akan lenyap dengan satu tokoh tunggal atau dengan menolak kepemimpinan sama sekali. Yang menyembuhkan adalah keberanian banyak panarko untuk memimpin diri sendiri, lalu merangkai tindakan mereka menjadi gerakan kolektif, menciptakan kopanarko—jaringan kepemimpinan yang nyata, organik, dan berkelanjutan.

Akhirnya, Arka menutup matanya sejenak, merasakan denyut kampung yang kini bernafas dengan ritme baru. Ia menyadari bahwa setiap langkah kecilnya, setiap keputusan yang ia ambil dengan hati, telah menumbuhkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri. Perubahan bukan tentang siapa yang memimpin, tetapi tentang bagaimana banyak orang memilih untuk memimpin, menolak imitasi kosong, dan memilih untuk menyinari dunia yang pernah tenggelam dalam chaos. Di situlah kekuatan sejati kopanarko—perlahan, diam-diam, namun tak terbendung.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Dosa Terbesar: Trump, Prabowo, atau Muti?

Siapakah dosanya paling besar di antara para pemimpin besar? Trump, Prabowo, atau Muti?

Mengapa membahas dosa orang lain? Mengapa tidak membahas amal kebaikan mereka? Bukannya lebih baik saling motivasi demi kebaikan?

Kita membahas mereka karena mereka adalah pemimpin besar yang hidup dari uang rakyat; yang bertanggung jawab kepada rakyat; yang mengelola sumber daya rakyat; yang merelakan waktu dan tenaga mereka demi kebaikan rakyat.

Muti adalah menteri pendidikan dasar menengah sejak era presiden Prabowo 2024. Karena Muti adalah aktivis Muhammadiyah yang banyak amal sholeh maka Muti bukan dosa besar di antara para tokoh. Jadi, hanya tersisa pilihan antara Trump dan Prabowo mana yang dosanya lebih besar atau paling besar?

1. Dosa Jelas
2. Merah
3. Hitam
4. Kuning
5. Diskusi

Jenis-jenis dosa adalah beragam. Kali ini kita akan membedakan jenis dosa menjadi warna-warni (yaitu merah, hitam, kuning) berdasar ajaran Sunan Kalijaga.

1. Dosa Jelas

Beberapa dosa bersifat jelas; beberapa dosa yang lain tampak samar-samar. Seorang pemuda mabuk lalu mencuri beberapa sepatu di asrama mahasiswa. Esok harinya, para mahasiswa dan pengurus RT mendatangi pemuda itu dan menuntut sepatu curian dikembalikan ke mahasiswa. Pemuda itu mengaku salah dan mengaku berdosa lalu minta maaf. Mahasiswa memaafkan pemuda dan urusan selesai.

Dosa Trump dan Prabowo tidak sejelas dosa pencuri sepatu itu. Karena para pemimpin berdalih sedang menjalankan tugas mulia. Trump mengatakan sedang “mewujudkan” perdamaian Palestina. Prabowo sedang “menyehatkan” anak bangsa dengan progam MBG (makan bergizi gratis). Muti sedang meningkatkan kualitas pendidikan dengan TKA (tes kemampuan akademik).

Kita perlu lebih jeli membaca dosa-dosa para pemimpin.

2. Merah

Dosa merah adalah dosa besar bagai berdarah-darah. Sunan Kalijaga menjelaskan jenis dosa ini berdasar ajaran Nabi Khidir dalam Suluk Linglung dan berdasar ajaran Dewa Ruci dalam kisah pewayangan Serat Dewa Ruci.

Dosa merah adalah ketika manusia berperilaku seperti binatang serakah. Babi adalah contoh binatang serakah yang makan apa saja (nasi, sayur, buah, telor, ikan dll) dengan serakah tanpa mempertimbangkan pihak lain dengan baik-baik. Orang yang memperoleh uang besar adalah serakah karena tanpa mempertimbangkan pihak lain; orang seperti itu seperti babi; sehingga orang itu kena dosa merah. Tetapi, babi sendiri tidak berdosa dengan sikap “serakah” karena alamiah. Sedangkan manusia berdosa karena serakah.

Bill Gates adalah contoh dosa serakah dengan monopoli industri software waktu itu; Gates adalah dosa merah karena mengeruk keuntungan besar sementara pihak lain telantar; pengembang sofware kecil tersisih; juru ketik dipecat.

Google menyindir dosa merah Gates ini dengan moto: jangan jadi jahat! Google bermaksud mengatakan bahwa kita bisa sukses tanpa harus jadi jahat seperti jahatnya Gates itu. Pada gilirannya, Google menjadi jahat dengan dosa merah juga. Industri koran dan televisi bangkrut gara-gara orang memilih google.

Tepat dugaan Anda: mereka semua berdalih sedang membuat kemajuan teknologi!

Dosa merah memang tidak mudah dikenali. Selalu ada dalih membela diri. Berbeda dengan pencuri sepatu yang mudah mengaku.

Bagaimana dengan Trump dan Prabowo? Tentu mereka punya dalih berlimpah-limpah.

3. Hitam

Dosa hitam lebih kejam; lebih bahaya dari dosa merah yang serakah. Dosa hitam adalah seperti binatang buas singa yang menerkam. Dalam terkaman singa itu rusa mati tanpa daya. Manusia yang buas seperti singa adalah dosa hitam. Tetapi, singa sendiri tidak dosa “berbuat buas” karena singa alamiah.

Dalam kasus dosa hitam tampaknya Trump paling kelam. Bertahun-tahun Trump mendukung Isra3l menyerang Palestina. Ribuan jiwa bahkan lebih dari puluhan ribu jiwa warga Palestina meninggal dunia akibat serangan mereka; terutama banyak warga Gaza jadi korban aksi hitam mereka. Pertengahan tahun 2025, Trump memerintahkan usa menyerang Iran. Dan awal, 2026 ini Trump menculik Maduro sang presiden Venezuela.

Dosa-dosa hitam itu makin kelam karena ada dalih yang menjadikan mereka, yaitu Trump dan kawannya, terseret dosa lebih besar yaitu dosa kuning.

4. Kuning

Dosa kuning adalah dosa paling besar; lebih besar dari dosa merah atau pun hitam. Dosa kuning adalah dosa yang selalu punya dalih pembenaran. Dosa kuning lolos dari jeratan hukum karena dosa kuning lebih “licik” dari aturan hukum; lebih “licik” dari hukum adat, hukum nasional, mau pun hukum internasional. Tidak ada permisalan dosa kuning yang dilakukan oleh binatang. Barangkali Iblis adalah contoh dosa kuning dari kisah kitab suci.

Mengapa Trump mendukung serangan Isra3l ke Palestina? Karena, kata Trump, Isra3l punya hak mempertahankan diri. Tentu itu hanya dalih. Semua tokoh di dunia menolak dalih itu. Tokoh-tokoh dunia mau bertindak menentang Trump tapi usa punya hak veto di PBB untuk menghentikan semua tindakan dunia. Jadi dosa kuning, dosa paling besar, adalah berupa eksploitasi aturan hukum hak veto di PBB oleh Trump dan kawannya.

Mengapa menyerang Iran? Trump berdalih ada pengembangan senjata nuklir di Iran. Mengapa menyerang Venezuela? Karena ada dalih bisnis narkoba. Bukankah Trump melanggar aturan internasional? Aturan internasional bisa diatur ulang oleh Trump. Itulah prinsip dasar dosa kuning; dosa terbesar; mengatur ulang aturan agar menguntungkan pihaknya dan tentu merugikan pihak lain.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda: siapa pemimpin paling besar dosanya?

Lalu, apa solusinya? Pertama, solusi pribadi berupa mencegah diri dari beragam jenis dosa. Hindari dosa. Bila terlanjur dosa maka segera tobat. Kedua, perbanyak amal kebaikan. Amal besar mau pun kecil. Amal besar ada risiko terjebak dalam dosa kuning yang berbahaya; amal kecil yang mendalam dan penuh makna menjadi pilihan bijaksana.

Ketiga solusi sosial yang sangat sulit tetapi perlu ditempuh. Manusia adalah bios (atau biopolitik) yaitu makhluk yang menjadi sempurna hanya dengan terlibat politik (praktis atau pun non-praktis). Bios beda dengan zoo karena binatang zoo hanya hidup di lingkungan alamiah. Sementara, manusia adalah bios yang hidup di dunia sosial politik.

Dari analisis di atas, dosa terbesar dimenangkan oleh Trump.

Solusi terhadap dosa kuning lebih dominan bersifat sosial politik dan membutuhkan solusi pribadi sebagai syaratnya; maksudnya, tanpa solusi pribadi, solusi politik akan kembali terjebak dosa kuning. US, dalam histori, pernah melakukan pelengseran presiden atau pemakzulan (impeachment). “Proses pemakzulan (impeachment) di AS melibatkan House of Representatives (DPR) untuk mendakwa, dan Senat sebagai pengadilan untuk memutuskan pencopotan.”

Jadi solusi pertama terhadap dosa kuning Trump adalah pemakzulan sesuai konstitusi. Solusi yang lain adalah alternatif dari konstitusi. Andai Trump dimakzulkan, orang berharap, akan diganti presiden yang lebih baik. Negara-negara lain juga bisa memakzulkan pemimpin mereka masing-masing yang dosa kuning.

Alternatif lain adalah melawan Trump dengan kekuatan. Misal Cina, Russia, Iran, Indonesia, Jerman, dan lain-lain bisa sengaja melawan dominasi Trump dengan kekuatan militer dan ekonomi. Barangkali Trump akan berpikir ulang untuk main-main aturan internasional.

Imajinasi fiksi bisa saja berkembang lebih jauh. Ketika kekuatan licik, dosa kuning, begitu kuat maka pahlawan seperti Batman perlu muncul. Kadang dalam bentuk semacam Robin Hood. Lebih awal dari itu, di Jawa Timur terkenal solusi dari kisah Raden Syahid yaitu masa muda dari Sunan Kalijaga itu sendiri.

Bagaimana menurut Anda?

Problem Mind Body Terselesaikan

Bagaimana pikiran berhubungan dengan badan kita? Problem mind-body ini sudah berlangsung ratusan tahun. Tetapi belum ada solusi yang memadai sampai hari ini. Pada tulisan ini, kita akan memberikan solusi secara tuntas.

Problem mind-body ini mencuat ketika Descartes merumuskan dualisme pikiran dan badan. Pikiran adalah res cogitan yang terpisah dengan badan yang res extensa. Jika terpisah lalu bagaimana pikiran bisa memengaruhi badan dan badan memengaruhi pikiran?

1. Tidak Ada Masalah di Era Kuno
2. Masalah Tak Selesai
3. Solusi Etihad
3.1 Ittisal-Etihad
3.2 Vorhanden-Zuhanden
3.3 Fermion_Boson
3.4 Solusi Mind Body
3.5 Problem Etihad
4. Diskusi
4.1 Mengkaji Etihad
4.2 Mengkaji Makna
4.3 Makna Mind Body
5. Ringkasan

Sains modern dan filsafat modern memang menghadapi problem itu secara serius. Tetapi, sains filsafat kuno tidak menghadapi problem seperti itu.

1. Tidak Ada Masalah di Era Kuno

Plato dan Aristo tidak ada masalah dengan pikiran dan badan. Bagi mereka, pikiran dan badan adalah satu kesatuan yang utuh. Ajaran agama-agama besar di dunia juga tidak ada masalah. Bagi agama, pikiran dan badan adalah satu kesatuan tak terpisahkan.

Pemikir besar Timur semisal Aljabar, Ibnu Sina, Ghazali, Ibnu Arabi, Ibnu Khaldun, dan lain-lain juga tidak menghadapi masalah mind-bodi itu. Masalah baru muncul di era Descartes sekitar abad 17an.

2. Masalah Tak Selesai

Descartes menyelesaikan satu masalah tetapi memunculkan masalah baru yang tidak bisa diselesaikannya. Waktu itu, kekuatan gereja sangat besar. Karena setiap materi (badan) bersatu dengan pikiran (jiwa) maka semua sains harus sejalan dengan ajaran gereja. Padahal penemuan sains banyak yang berbeda dengan ajaran agama, misal heliosentris dari sains yang meyakini bumi berputar mengelilingi matahari.

Descartes berhasil memisahkan badan dengan jiwa melalui teori dualisme. Konsekuensinya, ilmuwan bebas mengkaji badan, materi, dan lain-lain; sedangkan, nasib jiwa tetap ada di ajaran agama. Descartes berhasil membebaskan kajian sains; menyelesaikan satu masalah. Gereja tidak perlu lagi “menghakimi” teori sains.

Masalah baru muncul: bagaimana jiwa terhubung dengan badan? Jika jiwa dan badan saling terpisah maka bagaimana mereka bisa saling memengaruhi?

Banyak solusi yang ditawarkan tetapi masih gagal. (1) materialis yang menganggap yang ada hanya badan; jiwa sekadar ilusi; (2) idealisme yang menganggap segalanya adalah pikiran; materi adalah sekadar endapan pikiran; (3) dualisme paralel; jiwa dan badan sama-sama nyata terpisah tetapi paralel; apa yang terjadi pada badan paralel dengan yang terjadi pada jiwa; dan sebaliknya. Serta masih banyak solusi lain lebih beragam; umumnya variasi dari 3 solusi di atas. Masalah tak selesai.

3. Solusi Etihad

Etihad adalah solusi yang kita butuhkan.

Kita mengajukan solusi melalui 3 pendekatan: (1) ittisal-etihad; (2) vorhanden-zuhanden; (3) fermion-boson.

3.1 Ittisal – Etihad

Mulla Sadra (1572 – 1640) mengenalkan konsep ittisal dan etihad sebagai mode wujud atau mode eksistensi yang berbeda.

Ittisal adalah mode eksistensi yang merupakan gabungan dari bagian-bagian secara tersambung. Misal telinga kanan Anda terhubung dengan mata kanan Anda oleh pelipis; sementara telinga terhubung dengan pelipis melalui tulang dan daging; dan seterusnya.

Karakter dari ittisal adalah saling terhubung tetapi selalu bisa dipisahkan. Telinga dan mata dipisahkan oleh pelipis; peran pelipis adalah pemisah sekaligus penghubung.

Etihad adalah mode eksistensi yang merupakan satu kesatuan utuh tanpa ada penyambung; tanpa ada pemisah; berbeda dengan mode ittisal. Anda mendengar suara Ebiet bernyanyi dan melihat Ebiet yang memetik gitar; dan sambil Anda menikmati kopi. Anda, yaitu diri Anda, adalah satu kesatuan utuh sebagai etihad. Diri Anda bukan merupakan gabungan suara, penglihatan, dan perasa itu; melainkan diri Anda adalah yang mendengar, melihat, dan merasa itu sebagai Anda yang utuh tak terpisahkan.

Karakter etihad adalah satu kesatuan utuh; tanpa bagian; tanpa penghubung; tanpa pemisah. Etihad ini yang akan menjadi solusi dualisme badan dan jiwa.

3.2 Vorhanden-Zuhanden

Heidegger (1889 -1976) mengenalkan analisis vorhanden-zuhanden. Heidegger memang menolak dualisme jiwa dan badan versi Descartes. Vorhanden atau present-at-hand adalah mode analisis sebagai konsep abstrak; sedangkan zuhanden atau ready-at-hand adalah mode analisis sebagai eksistensi yang ada dalam dunia.

Vorhanden menganalisis konsep bagian demi bagian kemudian menyambungkan mereka. “Anda melihat pohon jambu itu.” Ada konsep “Anda” sebagai subyek pengamat dan ada konsep “pohon” sebagai obyek pengamatan. Melalui prosedur terntentu, misal melalui gelombang cahaya dan mata, konsep “Anda” terhubung dengan konsep “pohon”. Meski mode vorhanden ini valid tetapi tidak otentik. Sementara, zuhanden adalah otentik.

Zuhanden adalah mode eksistensi yang berada dalam dunia. “Anda melihat pohon jambu itu” adalah sebuah proyek dalam eksistensi Anda-dalam-dunia. Barangkali karena Anda ingin merawat pohon jambu itu; atau karena pohon jambu itu ada yang aneh sehingga menarik perhatian Anda. Proyek Anda-dalam-dunia adalah satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan; tanpa perlu dihubungkan karena sudah utuh. Mode zuhanden ini adalah otentik; berbeda dengan vorhanden yang hanya derivatif.

3.3 Fermion-Boson

Paul Dirac (1902 – 1984) merumuskan konsep fermion dan boson di waktu hampir bersamaan ketika Heidegger merumuskan vorhanden-zuhanden. Fermion adalah partikel elementer yang selalu bisa dibedakan dengan fermion lainnya. Sedangkan boson adalah pembawa gaya interaksi yang merupakan satu kesatuan utuh. Mereka, yaitu fermion dan boson, adalah eksitasi dari medan kuantum.

Fermion adalah partikel terkecil yang bisa kita pikirkan semisal elektron atau quark. Elektron A selalu bisa dihubungkan dengan elektron B tetapi, di saat yang sama, juga selalu bisa dipisahkan.

Boson, misal gravitasi bulan yang menyebabkan pasang naik di pantai utara Jawa, selalu terhubung meski “tampak terpisah” jarak ribuan kilometer dari rembulan sampai bumi. Gravitasi, sebagai contoh boson, adalah satu kesatuan utuh yang tidak perlu disambungkan dan tidak perlu dipisahkan.

3.4 Solusi Mind Body

Kini, kita pada posisi untuk menyelesaikan problem mind-body secara tuntas. Mode eksistensi etihad adalah solusi tuntas bagi problem mind-body.

Sains modern, neurosains, dan filsafat pikiran hanya fokus ke mode ittisal yang berakibat mereka gagal menghadapi mind-body problem. Andai mereka bersedia menambah perspektif mode etihad maka problem mind-bodi selesai; dan mereka menghadapi problem baru yang lebih bernilai.

“Saya mendengar lagu Ebiet itu.”

Sains membuat konsep-saya yang terhubung dengan konsep-lagu melalui proses konsep mendengar; ini adalah mode ittisal; selalu bisa dipisahkan.

Bagaimana konsep-saya terhubung dengan konsep-mendengar? Konsep-saya terhubung melalui konsep-syaraf. Bagaimana konsep-saya terhubung dengan konsep-syaraf? Pertanyaan ini mengantar kita kepada hard-problem dari Chalmers: bagaimana dari syaraf itu bisa muncul kesadaran saya sebagai subyek yang mendengar?

Seperti diketahui, sampai 2026 ini tidak ada solusi bagi hard-problem; karena mereka memakai mode ittisal.

Misal, dari syaraf melalui A maka muncul kesadaran subyek saya. Pertanyaan berikutnya: bagaimana dari A bisa muncul kesadaran? Jawab dari B, misalnya. Tetapi, kita bisa mengajukan pertanyaan lanjutan tanpa henti sehingga tidak ada solusi dari mode ittisal.

Solusinya adalah menambah perspektif etihad maka selesai dengan tuntas.

3.5 Problem Etihad

Mode etihad menyelesaikan problem mind-bodi dengan tuntas tetapi memunculkan problem baru yang tidak pernah tuntas.

“Saya mendengar lagu Ebiet itu” adalah mode etihad sebagai realitas nyata yang utuh; tidak bisa dipisah-pisahkan; tidak bisa disambungkan; karena memang sudah utuh sebagai realitas konkret. Mengapa?

Jika Anda bertanya “mengapa” maka itu adalah pertanyaan yang bagus dalam mode etihad.

Mengapa? Karena lagu Ebiet menyentuh hati Anda sehingga Anda menghargai alam semesta dan menghargai setiap orang. Pada gilirannya, Anda berbuat baik kepada mereka.

Tetapi, mengapa saya bisa mendengar lagu Ebiet? Mengapa lagu Ebiet itu bisa terdengar oleh saya? Mengapa lagu Ebiet itu terhubung dengan saya? Karena Anda menerima anugerah pendengaran dari Sang Pemberi Anugerah. Mengapa saya menerima anugerah pendengaran? Mengapa Dia memberi anugerah ke saya?

Pertanyaan demi pertanyaan makin menarik dan berbobot. Tetapi tidakkah itu menggeser dari pertanyaan sains menjadi pertanyaan etika? Dari pertanyaan obyektif menjadi subyektif?

Tentu saja mode ittisal akan memisahkan sains dengan etika; memisahkan obyek dengan subyek. Kemudian, mode ittisal kesulitan untuk menghubungkan sains dengan etika maupun obyek dengan subyek. Justru mode etihad adalah solusi yang menyatukan sains dengan etika; menyatukan obyek dengan subyek; sebagai kesatuan utuh tanpa penghubung; tanpa pemisah.

Kita perlu mencatat bahwa mode ittisal tetap valid sesuai kapasitasnya; kajian sains tetap valid sesuai porsinya. Bagaimana pun, mode ittisal adalah tidak cukup; sains adalah tidak memadai. Kita perlu meluaskan dan memperdalam dengan mode etihad.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda? Apa manfaat etihad? Apa kontribusi nyata dari mode etihad?

Kontribusi nyata etihad adalah sangat besar dan sangat banyak.

4.1 Mengkaji Etihad

Bagaimana cara mengkaji etihad?

Cara mengkaji etihad adalah melalui pemaknaan; membuka makna terhadap seluruh posibilitas yang luas; menyelidiki makna setiap posibilitas.

Mengkaji sains obyektif saja, dalam mode ittisal, sangat sulit. Bila ditambah dengan kajian makna, mode etihad, bukankah sains menjadi lebih rumit? Benar, sains menjadi rumit bila perspektifnya seperti itu. Tetapi, jika perspektifnya dimulai dari mode etihad maka kajian sains bisa lebih bermakna. Awalnya, saintis menyadari tugasnya untuk mengkaji sains dalam mode etihad; kesadaran diri yang utuh bersama masyarakat dan alam raya. Kemudian, saintis itu mendalami sains secara spesialisasi sesuai keahliannya; mode ittisal. Sehingga, seorang saintis dalam situasi dinamis etihad dan ittisal.

4.2 Mengkaji Makna

Apa makna-eksistensi? Apa makna-realitas? Apa makna-being?

Beberapa istilah kunci untuk mengkaji makna, dan mengkaji etihad, di antaranya adalah: tafsir, takwil, semantik, hermeneutik, puisi, narasi, histori, dan lain-lain. Sains memang jarang mengkaji makna melainkan lebih sering mengkaji definisi. Kita membutuhkan keduanya: definisi dan makna.

4.3 Makna Mind Body

Apa makna mind? Makna body?

Dalam konteks manusia, body adalah badan kita sebagai manusia; badan adalah posibilitas paling dasar bagi manusia. Mind atau pikiran atau jiwa adalah diferensia dari badan; jiwa adalah forma kesempurnaan dari badan.

5. Ringkasan

Kita berhasil menyelesaikan problem mind-body dengan pendekatan mode etihad: pikiran dan badan adalah satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan; dan tidak bisa dihubungkan karena sudah utuh. Kemudian, dari mode etihad ini kita bisa mengembangkan kajian lebih luas dan mendalam.

Sementara, solusi dari perspektif mode ittisal akan selalu gagal menghadapi problem mind-body atau pun variasinya berupa hard-problem tentang kesadaran. Meski kajian mode ittisal adalah valid, dan berpotensi untuk terus berkembang secara saintifik, tetapi kita membutuhkan kajian mode etihad lebih kuat.

Bagaimana menurut Anda?

Tokoh Super Pesimis Vs Optimis

Apakah Anda termasuk orang yang pesimis atau optimis? Atau super pesimis? Silakan menjawabnya setelah membaca beberapa tokoh pesimis dan optimis berikut.

Tokoh paling pesimis adalah Schopenhauer yang hidup sejaman dengan Hegel. Schopen, sebagai tokoh super pesimis, kita tandai sebagai bintang 1. Sementara, tokoh paling optimis yaitu super optimis, kita tandai sebagai bintang 5; siapakah dia?

Baik tokoh pesimis mau pun optimis sama-sama mengajarkan kebaikan. Barangkali Anda tertarik seimbang antara optimis dan pesimis? Pilihlah tokoh bintang 3. Bagaimana pun, Anda tetap valid memilih tokoh bintang 1 atau bintang 5 sebagai teladan super.

1. Meraih Manusia Paripurna
2. Seni sebagai Bahagia Tertinggi
3. Gelisah sebagai Manusia
4. Hanya Satu Arah berubah
5. Harapan Tanpa Harapan

Kita akan membahas tokoh-tokoh ini bertahap tetapi tidak urut. Anda boleh setuju atau berbeda dengan saya. Pemilihan tokoh di sini bersifat penjelasan dalam arti bermaksud menjelaskan maksud pesimis dan optimis; meski ketepatan histori bisa lebih jauh dikaji.

1. Meraih Manusia Paripurna

Kita mulai dengan tokoh super optimis bintang 5 yang mengajarkan bahwa setiap orang, termasuk Anda, bisa menjadi manusia sempurna. Orang miskin, orang kampung, orang hitam, orang kecil, orang kaya, orang kota, orang putih, orang besar, dan setiap orang bisa menjadi manusia paripurna. Bukan hanya Anda bisa menjadi manusia sempurna melainkan jalan menjadi manusia sempurna itu sudah tersedia untuk Anda.

Tokoh yang mengajarkan konsep manusia sempurna ini adalah Syeikh Akbar (abad 13) atau Ibnu Arabi atau Guru Agung. Manusia sempurna adalah manusia seperti diri kita ini yang punya batas, lemah, dan kadang salah. Hanya saja, manusia sempurna mengembangkan seluruh posibilitasnya menjadi posibilitas yang nyata; mengembangkan seluruh kebaikan menjadi kebaikan yang nyata badi dirinya, orang sekitar, alam dan masyarakat luas. Manusia sempurna ini sering disebut sebagai insan kamil atau kamil.

Di sisi lain, kamil adalah manifestasi dari Tuhan. Jadi kamil bukanlah manusia biasa melainkan manusia luar biasa. Anda hanya bisa menjadi kamil karena limpahan karunia Tuhan. Kabar baiknya, karunia Tuhan berlimpah untuk semua orang dan alam raya.

Super optimis: Anda adalah manusia sempurna dan setiap orang bisa menjadi manusia sempurna.

Bagaimana dengan manusia yang gagal? Apa maksud gagal? Kasih sayang Tuhan mendahului amarah Nya. Ampunan Tuhan lebih luas dari samudera; lebih tinggi dari gunung tertinggi; lebih menjulang dari langit berlapis-lapis.

Bagaimana dengan orang yang terjerumus ke dalam neraka? Menurut Syeikh Akbar, orang yang masuk neraka setelah sekian waktu akan dikeluarkan dan masuk surga; karena orang itu masih punya sedikit kebaikan dalam dirinya. Bagaimana jika orang itu benar-benar jahat tanpa ada kebaikan? Orang itu akan tinggal di neraka selamanya tetapi ia akan mampu melakukan adaptasi yang diperlukan; pada akhirnya, ia berada di tempat paling tepat baginya.

Super optimis: meski Anda terjerumus dalam dosa tetapi masih ada kesempatan untuk bertobat. Mari bertobat dan kemudian meniti jalan menjadi manusia sempurna. Sukses untuk Anda, bahagia untuk Anda dan orang-orang di sekitar Anda.

Apakah Anda termasuk super optimis bintang 5?

2. Seni sebagai Bahagia Tertinggi

Menikmati seni adalah bahagia tertinggi; mendengarkan lagu yang merdu sungguh menghibur kalbu. Pernahkah Anda mengalami seperti itu?

Nikmat seni hanya sesaat kemudian lenyap. Hidup adalah derita. Keinginan Anda untuk menghapus derita adalah sumber derita itu sendiri. Lebih mudah bila kita tidak pernah lahir di dunia ini; tidak pernah merasakan derita di dunia ini. Super pesimis: bintang 1.

Schopenhauer (abad 19) adalah pemikir super pesimis bintang 1. Setiap orang punya keinginan, hasrat, atau cita. Keinginan adalah sumber derita. Cara mengurangi derita adalah dengan mengurangi keinginan; keinginan Anda berkurang maka derita Anda berkurang.

Apakah manusia bisa bahagia? Super pesimis; sulit sekali. Nyaris semua orang menderita di sepanjang hidupnya. Derita hilang ketika Anda “terhibur” dalam alunan karya seni. Tetapi itu pun hanya berlangsung sesaat. Bila Anda benar-benar ingin meresapi seni maka keinginan Anda itu membuat Anda gagal menikmati seni; justru mengantar Anda dalam derita.

Super pesimis: bintang 1. Apakah Anda termasuk super pesimis?

Super pesimis ini justru sangat bermanfaat untuk kehidupan orang-orang jaman sekarang. Orang sekarang sering buru-buru tidak punya waktu; sibuk kerja, sibuk bisnis, sibuk cari duit, sibuk media sosial, sibuk apa saja. Mereka terjerumus dalam derita. Derita itu bisa dikurangi dengan cara mengurangi keinginan. Kemudian menjalani hidup dengan seni hidup yang mengalir. Itulah bahagia: seni mengalir menjalani hidup ini.

Apakah ada orang yang bisa menjalani seni hidup mengalir? Sulit sekali; sedikti sekali. Memang super pesimis: bintang 1. Apakah Anda termasuk seperti itu?

3. Gelisah sebagai Manusia

Apakah Anda pernah merasa gelisah? Gelisah tidak punya kerja? Tidak punya uang?

Gelisah karena telah berpulang ibu dan ayah? Gelisah akan masa depan Anda dan keluarga Anda? Gelisah akan masa depan generasi muda dan negara?

Gelisah adalah anugerah terbesar buat seorang manusia. Seekor ular tidak pernah gelisah. Bila ular lapar maka ia tinggal mencari makan tikus atau anak ayam. Kera juga tidak gelisah tentang krisis ekonomi. Kucing juga tidak gelisah situasi politik negara yang pecah belah. Gelisah adalah unik milik manusia sejati.

Gelisah berbeda dengan takut. Tikus takut dimangsa ular. Kucing takut digigit anjing. Manusia juga takut ditagih rentenir. Takut itu biasa-biasa saja. Tapi rasa gelisah adalah luar biasa. Mengapa?

Karena gelisah membuka posibilitas masa depan dengan mengetuk sisi terdalam nurani manusia. Karena gelisah itu Anda merencanakan masa depan; menyiapkan diri untuk meraih cita; rela berkorban untuk kebaikan bersama. Pada waktunya, Anda sukses penuh makna. Membawa kebaikan bagi keluarga dan masyarakat sekitar.

Jadi gelisah itu bermakna positif? Tepat sekali. Memang optimis.

Tetapi untuk sukses meraih cita perlu rasa gelisah? Benar. Memang pesimis. Gelisah itu menyakitkan hati dan menusuk diri.

Bintang 3: optimis dan pesimis berimbang. Apakah Anda termasuk bintang 3 yang berimbang?

Tokoh bintang 3 adalah Heidegger (1889 – 1976) yang berimbang antara pesimis dan optimis. Karena Heidegger berada di lingkungan akademisi yang rasional analisis maka pendekatan Heidegger sering dipandang sebagai pesimis. Salah satunya, Heidegger sering membahas tentang kematian. Pada waktunya, kita pasti akan mati. Pesimis.

Mati itu penting. Hanya manusia yang bisa mati. Kucing tidak bisa mati; kucing hanya bisa musnah. Mati bagi seorang manusia adalah terbukanya posibilitas yang imposibel. Mati membuka jalan bagi kita untuk menuju dunia yang lebih luas; nyaris tanpa batas. Jadi mati adalah positif? Yes, optimis. Tapi, mati menjadikan hidup ini berakahir? Yes, pesimis. Coba Anda renungkan: apakah Anda di bintang 3? Optimis dan pesimis berimbang?

4. Hanya Satu Arah berubah

Waktu terus begulir. Segalanya berubah. Matahari terbit, terbenam, lalu terbit lagi. Purnama muncul lalu hilang untuk kemudian datang lagi purnama. Semua terus berputar tanpa henti.

Ke arah mana semua gerakan itu? Hanya satu arah: menuju yang lebih sempurna.

Semua gerak di alam semesta; termasuk gerak-gerik Anda; pasti adalah menuju lebih sempurna. Optimis banget? Betul, optimis: bintang 4.


5. Harapan Tanpa Harapan

Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Sejarah Quantum Diperbarui

Benar sejarah quantum. Bukan hanya metafora kuantum. Zizek klaim sejarah diperbarui oleh perkembangan kuantum; sedangkan kuantum butuh sejarah dialektika Hegel untuk mengatasi beragam masalah. Hasilnya adalah singularitas AI salah satunya.

“Žižek’s Quantum History: A New Materialist Philosophy stakes its claim on a double front: it proposes a reconstruction of materialism adequate to contemporary quantum physics and, inseparably, a reconstruction of historical and political agency under conditions in which no neutral standpoint outside quantum indeterminacy and symbolic distortion is available. The book’s distinctive contribution lies in the sustained attempt to read quantum mechanics, Hegelian dialectics and Lacanian psychoanalysis as mutually implicated discourses of the void, the collapse and the act, such that cosmology, ontology and politics are articulated on a single plane of immanence.” (SimonGros1990.com).

Žižek’s Quantum History: A New Materialist Philosophy menegaskan posisinya pada dua ranah sekaligus: karya ini mengajukan rekonstruksi materialisme yang memadai bagi fisika kuantum kontemporer dan, secara tak terpisahkan, rekonstruksi agensi historis dan politik dalam kondisi di mana tidak tersedia sudut pandang netral di luar ketakpastian kuantum dan distorsi simbolik. Kontribusi khas buku ini terletak pada upaya berkelanjutan untuk membaca mekanika kuantum, dialektika Hegelian, dan psikoanalisis Lacanian sebagai wacana-wacana yang saling terjalin mengenai kehampaan, keruntuhan, dan tindakan, sehingga kosmologi, ontologi, dan politik dirumuskan dalam satu bidang imanensi yang sama.

1.UPS: Universal, Partikular, Singular
2. Void: Selalu Gagal
3. AI Bisa Berpikir?
3.1 Dominasi Kapital
3.2 Lebih dari Kapital
3.3 Bisa Berpikir?
3.4 Kesimpulan Berpikir
3.5 Mesin sebagai Subyek
3.6 Ringkasan AI
4. Diskusi

Zizek menegaskan mengikuti alur UPS: universal, partikular, singular. Awalnya, Kant (1724 – 1804) menggunakan sintesa UPS sebagai logika yang valid dan menolak dialektika karena tidak valid. Kemudian, Hegel (1770 – 1831) justru mengambil logika dialektika sebagai paling valid: universal berdialektika dengan partikular menghasilkan singular.

Apakah AI bisa berpikir? Tidak bisa. Karena untuk berpikir seperti manusia, kita membutuhkan void (gap ontologi); yaitu paradoks, dilema, dan kontradiksi. AI tidak memiliki void itu; bahkan binatang, misal simpanse saudara dekat kita, juga tidak memiliki void. Jadi mereka tidak bisa berpikir. AI hanya bisa merespon sesuai algoritma belaka tanpa gap.

Apakah di masa depan AI bisa berpikir seperti manusia? Zizek tidak bisa menjawab itu. Simon Gros, yang kita kutip di atas, juga tidak menjawabnya. Mereka membiarkan masa depan AI tetap terbuka; bisa apa saja. Yang jelas, bagi Zizek, AI masa kini telah menimbulkan bencana besar bagi umat manusia.

1.UPS: Universal, Partikular, Singular

Zizek sering canda. Dalam intro, ia canda tentang ateisme dan Reagan.

Dalam salah satu leluconnya yang cukup dikenal, Ronald Reagan mengusulkan untuk membantah ateisme melalui skenario berikut: ia akan mengundang sekelompok ateis terkemuka ke sebuah jamuan makan malam yang sangat mewah, dimasak oleh para koki terbaik. Setelah santap malam tersebut, ia kemudian akan bertanya kepada mereka: “Apakah Anda percaya bahwa ada seorang juru masak yang menciptakan hidangan ini?” Dalam analogi yang jelas, berbagai hal yang jauh lebih sempurna di alam semesta kita dianggap membuktikan bahwa pasti juga ada seorang “juru masak” tertinggi sebagai pencipta.

Namun, ketidakselarasan logis (non sequitur) dalam lelucon ini sebenarnya cukup jelas. Saya menganggap lelucon berikut tentang kepercayaan kepada Tuhan sebagai contoh yang jauh lebih baik.

Seorang ateis mendapat hari libur kerja, lalu memutuskan untuk pergi memancing dengan perahu barunya di Danau Loch Ness. Hari itu sangat indah: matahari bersinar, danau tenang, dan ikan mudah didapat. Tiba-tiba, perahunya diserang oleh monster Loch Ness! Dengan satu kibasan mudah, makhluk itu melemparkan sang pria beserta perahunya tinggi ke udara. Monster tersebut kemudian membuka mulutnya, bersiap menelan pria dan perahunya sekaligus. Ketika pria itu terlempar berputar di udara, ia berteriak: “Ya Tuhan! Tolong aku!” Seketika, serangan ganas itu berhenti, adegan membeku, dan sementara sang ateis tergantung di udara, sebuah suara menggelegar terdengar dari langit: “Bukankah kau bilang tidak percaya kepada-Ku?” “Ah, ayolah, Tuhan! Berilah aku kelonggaran,” pintanya. “Baru satu menit yang lalu, aku juga tidak percaya pada monster Loch Ness!”

Ijinkan Zizek mengembangkan lebih banyak logika tidak selaras lagi agar tambah seru.

Zizek melanjutkan: “Buku ini mengikuti logika UPS: bergerak dari Universal melalui Partikular menuju Singular. Pembahasan diawali dengan materialisme dialektis, yakni penelusuran implikasi-implikasi filosofis dari mekanika kuantum sebagai dasar bagi suatu bentuk baru materialisme dialektis. Selanjutnya, buku ini beralih ke materialisme historis dengan memperhadapkan gagasan historisitas menurut Hegel dan Heidegger. Penutupnya berfokus pada singularitas tindakan-tindakan politik, dengan menyoroti implikasi politis dari pembacaan Hegel melalui lensa kuantum. Dengan demikian, silogisme yang mendasari buku ini adalah bahwa kita hanya dapat kembali dari Heidegger kepada Hegel melalui mediasi semesta kuantum.”

Maksud logika UPS adalah dialektika Hegel; bukan sintesa Kant; akibatnya, kita akan menemukan banyak kontradiksi; justru itu amat berarti bagi Zizek.

Universal quantum merevisi dialektika Hegel; karena Hegel belum kenal kuantum kala itu; struktur realitas kuantum: kolaps, non-komutatif, dan holografik. Kolaps menyatakan bahwa kita tidak bisa memastikan akan up atau down di awal; kita tidak bisa memastikan AI akan berguna atau berbahaya. Kita hanya bisa analisis retroaktif – analisis mundur setelah kejadian.

Non-komutatif menyatakan posisi x momentum berbeda dengan momentum x posisi. Tentu saja punya anak lalu menikah itu berbeda dengan menikah lalu punya anak. Bagaimana bisa dianggap sama? Angka 3 x 2 = 2 x 3 dianggap sama-sama 6 karena universal belaka.

Holografik menyatakan bahwa bagian-bagian menyimpan informasi seutuhnya dari keseluruhan. Dari atom, fermion, boson, string, atau gravitasi maka kita bisa memahami seluruh alam semesta. Mana bisa? Tentu saja, Zizek suka dengan kontradiksi.

Dialektika Hegel menegaskan bahwa setiap realitas (being) kontradiksi dengan kebenaran (esensi). Kontradiksi ini akan menghasilkan sintesa berupa realitas baru; dan proses dialektika berlanjut tanpa henti. Jadi kontradiksi dari kuantum di atas adalah karakter dari realitas itu sendiri; bukan pengetahuan yang tidak lengkap misal karena ada variabel tersembunyi (dugaan Einstein); tetapi karena secara ontologis memang tidak lengkap. Dialektika dalam sejarah partikular seperti inilah yang menyebabkan kuantum selalu bertabrakan dengan kontradiksi; dialektika Hegel mampu “menjelaskan” enigma kuantum.

Heidegger bertanya: Apa makna Being? Apa makna Ada? Apa makna Realitas?

Bagi Heidegger selalu ada perbedaan ontologis; selalu eksis perbedaan realitas dengan esensi; setelah bertanya makna-Ada. Perbedaan ontologis itulah eksistensi; Heidegger menyebutnya sebagai dialog eksistensi bukan dialektika. Dasein (manusia) menjadi eksis ketika dialog. Bagi Hegel, spirit (manusia) mengalami eksperien sebagai subyek dialektika. Sementara, eksistensi memiliki makna otentik ketika terbentang dari lahir sampai mati menurut Heidegger. Histori punya awal dan akhir. Eksistensi manusia (dasein) yang bersifat historal inilah yang menyebabkan teori kuantum akan terus berubah dinamis seiring sejarah.

Tetapi, saya tidak menemukan Zizek bertanya apa makna Ada? Apa makna eksistensi?

Universal dari hukum-hukum kuantum dan metafisika Hegel selalu berhadapan dengan kontradiksi-kontradiksi partikular dalam histori yang mendorong kita ke arah singular.

Mari kita ringkas maksud UPS dari Zizek. (0) Hegel merumuskan dialektika metafisika; (1) mekanika kuantum “melengkapi” dengan hukum universal kuantum; yang menemui paradoks; (2) Hegel mengungkap sejarah partikular dialektika; Heidegger mengungkap sejarah eksistensial dialogis partikular; mengungkap yang masih tersembunyi dari kuantum itu sendiri; (3) akhirnya, kita kembali kepada dialektika Hegel sebagai singular.

Zizek terus terang mengajak kita kembali ke Hegel; setelah berpetualang kuantum, Heidegger, kuantum, lalu Hegel. Mengapa tidak berputar terus saja Hegel, kuantum, Heidegger?

Tetapi, apakah fisikawan kuantum membutuhkan Hegel?

2. Void: Selalu Gagal

Mengapa selalu terjadi kontradiksi? Karena void (hampa): selalu ada gap dalam ontologi; ada retakan dalam realitas.

Ketika AI mulai halusinasi, ia mendekati realitas. Ketika kuantum menabrak kontradiksi (kolaps, non-komutatif, holografik), ia mendekati realitas. Ketika pemimpin politik mulai tidak masuk akal, ia menunjukkan dekat kejujuran. Memang begitulah adanya.

Zizek berjuang menempatkan void di pusat ontologi dalam karyanya, sekitar 10 tahun lalu, Less Than Nothing. Void bukan sekadar nothing melainkan less than nothing; lebih tersembunyi dari nothing; hanya sesekali menampakkan diri dalam paradoks, dilema, dan kontradiksi.

Setiap orang yang ingin menetapkan fomula sains tuntas; pemerintahan yang adil sempurna; kehidupan keluarga yang harmonis tiap hari; dipastikan gagal. Karena mereka semua akan berjumpa dengan void. Gagal ini bukan tanda keburukan melainkan tanda Anda makin dekat dengan realitas sebenarnya.

Valid pandangan Zizek: kuantum membutuhkan Hegel.

Saya tidak menemukan ada fisikawan yang membahas Hegel secara mendalam. Zizek juga tidak menunjukkan ada fisikawan yang mengkaji Hegel. Buku Quantum History ini pun tampaknya tidak dibaca oleh fisikawan. Beberapa ilmuwan di media sosial justru mencibir Zizek karena membahas quantum.

Memang Zizek tampak semangat ketika ngobrol dengan Penrose (fisikawan kuantum). Tetapi, saya tidak melihat Penrose tertarik dengan Hegel dari Zizek. Begitu juga dengan Rovelli (fisikawan kuantum) tidak tampak tertarik dengan Hegel. Rovelli malah menolak Heidegger dan menyarankan kembali ke Aristoteles.

Problem para fisikawan kuantum adalah masih terlalu kuat dalam paradigma positivisme; padahal kuantum membutuhkan negativitas; kuantum membutuhkan void; kuantum membutuhkan Hegel versi Zizek yang diwarnai oleh Lacan. Positivisme mengira bahwa akan ditemukan formula kuantum yang tuntas secara positif, afirmasi, dan bisa verifikasi. Sedangkan negativitas Zizek menyatakan bahwa selalu ada gap ontologi, yaitu void, sehingga tidak akan tuntas. Jadi, kuantum perlu untuk terus maju dalam riset karena selalu masih ada yang tersembunyi. Kuantum akan selalu bergerak dinamis sesuai dialektika Hegel.

3. AI Bisa Berpikir?

Jelas AI sudah membuat kerusakan bahkan teramat besar. Tidak ada keraguan tentang bencana akibat AI. Tetapi apakah AI itu bisa berpikir?

3.1 Dominasi Kapital

Kekuatan kapital BlackRock telah mendominasi dunia. Cerdiknya, BlackRock berhasil sembunyi di balik nama-nama besar: NVIDIA, Apple, Google, Amazon, Meta, Tesla, dan lain-lain.

“Cara modal mengendalikan kehidupan kita mungkin paling jelas dicontohkan oleh BlackRock, sebuah perusahaan raksasa yang beroperasi secara tertutup dan menghindari sorotan publik yang berlebihan. Perusahaan ini mengelola aset senilai hampir 10 triliun dolar AS.” (175).

Sementara aset NVIDIA, Apple, Google, Amazon, Microsoft, Tesla, Meta, dan lain-lain kisaran 0,1 triliun dolar. Jadi jika 10 perusahaan terbesar, paling terkenal di dunia ini, digabungkan maka total asetnya masih jauh di bawah BlackRock.

Kapitalisasi market NVIDIA, Apple, dan Google masing-masing sekitar 4 triliun dolar AS. Jadi bila 3 perusahaan ini digabungkan kapitalisasi marketnya maka hampir setara dengan aset BlackRock.

“Sebagaimana dapat diperkirakan, kecerdasan buatan (AI) memainkan peran kunci dalam operasional BlackRock. Perusahaan ini mengembangkan dan menggunakan Aladdin (Asset, Liability, Debt, and Derivative Investment Network), sebuah sistem elektronik yang pada tahun 2013 telah menangani sekitar 11 triliun dolar AS aset—termasuk 4,1 triliun dolar AS aset milik BlackRock sendiri—yang setara dengan sekitar 7% dari total aset keuangan dunia, serta memantau kurang lebih 30.000 portofolio investasi. Pada tahun 2020, Aladdin mengelola aset senilai 21,6 triliun dolar AS.”

“Semua hal tersebut menunjukkan bahwa program seperti Aladdin tidak bersifat netral; keputusan-keputusan yang dihasilkannya didasarkan pada asumsi-asumsi yang pada umumnya mengabaikan dampak lingkungan serta kerugian terhadap manusia.”

Aladdin tidak netral; AI tidak netral. Mereka merusak lingkungan, menyebabkan krisis iklim; merusak sistem ekonomi dan politik; dan mengeruk keuntungan besar untuk pihak serakah.

3.2 Lebih dari Kapital

“Ketika membahas kecerdasan buatan (AI) dan perang, kita perlu memulai dari suatu fakta yang kerap diabaikan—bukan hanya bahwa AI telah digunakan secara luas untuk mengatur aktivitas militer, tetapi juga bahwa infrastruktur yang menopang AI itu sendiri dapat menjadi sasaran operasi militer.” (177)

AI memang bukan hanya urusan kapital tetapi urusan militer untuk perang juga misalnya. Kemampuan AI untuk merusak apa pun obyeknya adalah sangat bernilai dalam perang. Meski AI bernilai, bisa saja itu semua adalah pelanggaran moral besar-besaran. Ancaman MAD (Mutually Assured Destruction) diduga sudah terjadi; seperti ancaman perang nuklir.

“Sangat mungkin bahwa saat ini sedang beroperasi suatu bentuk baru dari MAD (Mutually Assured Destruction). Negara-negara adidaya hampir pasti berupaya menanamkan virus digital ke dalam sistem kecerdasan buatan milik lawan mereka yang, apabila diaktifkan, dapat melumpuhkan seluruh sendi kehidupan suatu negara (seperti listrik, air, dan layanan vital lainnya). Karena kedua pihak menyadari hal ini, mereka juga memahami bahwa pengaktifan virus tersebut akan segera berujung pada konsekuensi kehancuran yang sama besarnya bagi pihak yang memulainya.”

“Sebagai contoh terkini, dilaporkan bahwa peran signifikan dalam pengeboman di Gaza dimainkan oleh sebuah program berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama “Lavender”. Pada minggu-minggu awal perang, sistem ini menetapkan hingga sekitar 37.000 individu Palestina sebagai militan yang dicurigai, serta menandai rumah-rumah mereka sebagai sasaran potensial serangan udara. Laporan tersebut menyebutkan bahwa pihak militer menindaklanjuti “daftar target pembunuhan” yang dihasilkan oleh Lavender tanpa kewajiban untuk memeriksa dasar informasi yang digunakan, meskipun mereka mengetahui bahwa sistem tersebut memiliki tingkat kesalahan yang dapat mencapai 10%.”

Secara bisnis, Lavender adalah senjata paling teruji di lapangan perang berupa wilayah Gaza sehingga sangat berharga. Senjata AI lain, barangkali, hanya bisa diuji di laboratorium dengan obyek penderita berupa boneka manusia. Tetapi, Lavender benar-benar mengambil korban manusia di Gaza. Benar-benar tidak bermoral.

Terjadi melingkar di sini. Senjata AI bukan sekadar kapital; kemudian senjata AI menghasilkan kapital besar.

3.3 Bisa Berpikir?

AI tidak hidup maka tidak bisa berpikir seperti manusia.

“Perusahaan-perusahaan besar tidak hanya menginvestasikan dana dalam jumlah yang sangat besar, tetapi juga mengerahkan konsumsi energi yang luar biasa untuk mengembangkan mesin kecerdasan buatan dengan tingkat kecerdasan yang sedemikian tinggi sehingga cara kerjanya melampaui jangkauan pemahaman kita sebagai manusia.”

Tahun 2050 krisis iklim besar-besaran. Penduduk bumi sulit menemukan air bersih karena dihabiskan oleh AI untuk pelatihan AI atau operasional AI. Perusakan lingkungan oleh AI harus dihentikan. Bagaimana caranya? Manusia belum menemukan caranya. Biarkan AI menemukan solusinya saran mantan bos Google. Karena, menurutnya, kecerdasan AI melampaui manusia.

“Kita sedang menghadapi kesulitan akibat kondisi lingkungan yang kritis, maka mari kita gunakan kecerdasan buatan—kita mungkin akan menghadapi masalah yang lebih besar, tetapi setidaknya kita memiliki AI untuk menanganinya…” (181)

Di sisi lain, AI telah merusak kemampuan manusia untuk berpikir. Seperti kalkulator yang membuat malas siswa TK berpikir hitungan, AI telah membuat manusia malas berpikir apa pun itu.

“Apakah “percakapan” permanen dengan ChatGPT secara bertahap dapat mengurangi kemampuan kita untuk berpikir?”

“Hanya terdapat dua opsi serius: yang dianjurkan oleh Kohei Saito (pertumbuhan negatif radikal) dan yang dianjurkan oleh Schmidt, bagi siapa, alih-alih takut akan dikendalikan oleh mesin yang maha-kuasa, kita sebaiknya menerima penyerahan diri kepada mesin sebagai satu-satunya solusi yang tersedia bagi kita.”

“Namun, ancaman yang sangat nyata ini tidak seharusnya membuat kita menutup mata terhadap fakta bahwa setiap mesin kecerdasan buatan, meskipun bagi kita tampak sangat kuat dan efisien secara tak terbayangkan, pada dasarnya hanyalah bagian dari realitas dan menyesuaikan diri dengannya, sementara satu-satunya noda dalam realitas, elemen yang mengganggu di dalamnya, adalah kita, umat manusia.”

“Dengan demikian, mereka tidak meniru cara berpikir manusia: yang sebenarnya kita hadapi belakangan ini adalah mesin-mesin yang tidak berpikir seperti manusia; mereka memang benar-benar berpikir, tetapi bukan sekadar lebih baik daripada kita—mereka berpikir dengan cara yang secara radikal berbeda dari pola berpikir manusia.” (184).

Seperti biasa, Zizek mengajukan kontradiksi di sini: (a) AI tidak bisa berpikir seperti manusia karena manusia hidup dan ada gap ontologi; tetapi (b) AI berpikir lebih hebat dari manusia.

3.4 Kesimpulan Pikiran

Beberapa tokoh berspekulasi bahwa AI lebih cepat berpikir dari manusia karena berbasis algoritma tanpa terikat oleh materi silikon. Sehingga, manusia juga akan berpikir lebih cepat dari AI bila tidak terikat oleh materi biologis.

“Saya tidak setuju dengan kesimpulan ini atas dua alasan. Pertama (1), tidak ada yang bersifat alami atau organik dalam “intelektualitas”; intelektualitas justru merupakan tanda adanya perpecahan radikal antara manusia dan hewan, yang memutus dan mengganggu ritme organik. Kedua (2), memang ada sesuatu yang dibatasi atau terbatas dalam dasar intelektualitas manusia itu sendiri, tetapi justru batasan inilah (yang disebut Heidegger sebagai finitude) yang melahirkan transendensi manusia, serta spiritualitas manusia yang khas. Jika batasan ini dihapuskan, kita memasuki ranah yang benar-benar berbeda. Oleh karena itu, istilahnya harus dibalik (3): “manusia” lebih dari sekadar “over-man.” Apa yang dimaksud dengan intelektualitas manusia adalah adanya celah antara dunia batin dan dunia luar, antara kehidupan batin yang disebut demikian dan realitas luar, dan tidak jelas apa yang akan terjadi (atau, lebih tepatnya, sedang terjadi) dengan celah ini pada kecerdasan buatan yang berkembang—kemungkinan besar, celah ini akan menghilang, karena mesin merupakan bagian dari realitas.”

3.5 Mesin sebagai Subyek

“Untuk menghindari salah pengertian, semua hal ini sama sekali tidak menutup kemungkinan bahwa mesin berpikir akan mengembangkan subjektivitas yang, dalam beberapa hal, bahkan lebih manusiawi dibandingkan manusia itu sendiri.” (186).

“Chalmers mengembangkan argumen ini hingga kesimpulannya dan berpendapat bahwa AI serta entitas yang disimulasikan juga dapat berpikir dan memiliki kesadaran. Berikut bentuk logis dari argumentasinya:

(1) Teori fisika kita merupakan teori struktural.
(2) Jika kita berada di Alam Semesta Non-Simulasi, teori fisika kita adalah benar.
(3) Alam Semesta Simulasi memiliki struktur yang sama dengan Alam Semesta Non-Simulasi.
(4) Jadi: jika kita berada di Alam Semesta Simulasi, teori fisika kita adalah benar.”

Konsep struktur oleh Chalmers di atas berbeda dengan konsep struktur para pemikir Strukturalis Prancis; termasuk berbeda dengan Lacan. Zizek mendukung Lacan.

“Premis Lacan adalah bahwa representasi subjek, atau ekspresinya dalam tatanan simbolik, selalu mengalami kegagalan; terdapat celah antara subjek dan tatanan simbolik. Namun, subjek tidak mendahului kegagalan ini, melainkan muncul melalui kegagalan representasi simboliknya—singkatnya, seorang subjek berusaha mengekspresikan dirinya sepenuhnya melalui kata-kata, gagal, dan kegagalan inilah yang menjadi subjek.”

Subyek manusia adalah “kegagalan” untuk bergabung dalam struktur simbolis; subyek adalah gap antara simbol dengan Real. AI tidak akan bisa menjadi subyek seperti itu. Lalu bagaimana cara AI untuk bisa menjadi subyek?

“Batas akhir kecerdasan buatan perlu dicari pada tingkat yang berbeda, yaitu pada tingkat subjektivisasinya. Hubungan seorang subjek dengan pengetahuan pada awalnya selalu bersifat transferensi, yaitu pengetahuannya secara konstitutif terkait dengan subjek lain yang dinaikkan ke status subjek-yang-diduga-tahu, seorang subjek yang telah memiliki pengetahuan yang sedang saya coba temukan.” (194)

“AI tentu dapat berfungsi sebagai subject supposed to know bagi kita, manusia. Mesin AI telah mampu mengenali dan membedakan perasaan kita, bahkan mengetahui tentang diri kita lebih banyak daripada yang kita ketahui sendiri. Namun demikian, mesin AI dalam cara kerjanya tidak bergantung pada adanya subject supposed to know.”

Singkatnya, berbagai macam cara untuk menjadikan AI sebagai subyek telah gagal. Manusia tidak tahu. Apakah AI akan tahu sendiri caranya untuk menjadikan AI sebagai subyek?

“Lebih jauh lagi, satu hal yang—setidaknya untuk sementara waktu—tidak dapat dilakukan oleh AI adalah mengembangkan ritual-ritual kecil dalam kehidupan sehari-hari: bukan kebiasaan, melainkan ritual. Berikut beberapa contoh dari tokoh-tokoh terkenal. Ketika Maya Angelou tiba di sebuah motel, ia selalu meminta agar semua gambar di dinding kamar dilepaskan. Setelah menyelesaikan kegiatan menulisnya pada awal malam, Agatha Christie mandi dan memakan sebuah apel di dalam bak mandi. Sebelum tertidur, Charles Dickens selalu mengeluarkan kompasnya untuk memastikan bahwa tempat tidurnya menghadap ke utara. Serena Williams selalu memantulkan bola sebanyak lima kali sebelum melakukan servis pertama.

Kita semua melakukan hal-hal serupa, berupa gestur-gestur kecil yang ter-ritualisasi dan sering kali bahkan terasa memalukan. Gestur-gestur ini memberi makna pada kehidupan, namun tidak memiliki fungsi pragmatis maupun makna yang definitif. Oleh karena itu, tidak diperlukan psikoanalisis untuk mengungkap makna tersembunyi di baliknya. Makna dari tindakan-tindakan tersebut bersifat sepenuhnya swa-rujukan; makna itu terletak pada efek pemaknaan itu sendiri. Tindakan semacam ini mengandaikan adanya suatu subjektivitas yang berupaya menghadirkan tatanan minimal dalam kehidupannya.”

“Pada sisi yang berlawanan dari ritual-ritual semacam itu terdapat kebingungan kita mengenai posisi kita dalam tatanan simbolik, yang kita ekspresikan melalui umpatan. Oleh karena itu, pertanyaan “Dapatkah AI berpikir?” seharusnya diubah menjadi pertanyaan “Dapatkah AI mengumpat atau bersumpah?”

“Dalam film History of the World: Part I karya Mel Brooks, terdapat sebuah adegan ketika tokoh utama (yang diperankan oleh Brooks sendiri), seorang pelayan di Yerusalem pada tahun 33 Masehi, diminta untuk melayani sebuah jamuan penting. Di tengah jamuan tersebut, salah satu piring terlepas dari tangannya dan terjatuh ke lantai, sehingga ia berseru, “Oh, Kristus!” Seruan ini kemudian dijawab dengan lembut oleh salah seorang tamu, “Ya, silakan, tidak apa-apa.”

Tiga tanda kecil manusia menjadi subyek tetapi AI tidak bisa menjadi subyek adalah: (1) manusia menciptakan ritual; AI tidak; (2) manusia bersumpah atau mengumpat; AI tidak; (3) manusia berdoa atau memuja; AI tidak.

“Dimensi kegelisahan atau ketidakpuasan dalam bahasa inilah yang menjadi pokok persoalan yang mendasari Tractatus karya Ludwig Wittgenstein. Ia berupaya menyelesaikannya dengan membedakan secara tegas antara apa yang dapat kita bicarakan dan apa yang tidak dapat kita bicarakan. Atau, sebagaimana ia tuliskan dalam proposisi terakhir Tractatus: Wovon man nicht sprechen kann, darüber muss man schweigen (Tentang apa yang tidak dapat dibicarakan, mengenai hal itu kita harus diam).

Pertanyaan langsung yang kemudian muncul adalah: mengapa sesuatu yang pada dirinya sendiri sudah mustahil justru perlu dilarang?” (199).

“Beberapa keadaan psikologis dan sosial memiliki sifat bahwa keadaan tersebut hanya dapat muncul sebagai hasil sampingan dari tindakan-tindakan yang dilakukan untuk tujuan lain. Dengan kata lain, keadaan-keadaan tersebut tidak pernah dapat diwujudkan secara cerdas dan disengaja, karena upaya untuk mewujudkannya justru meniadakan keadaan itu sendiri yang hendak dicapai.”

Zizek mengakhiri singularitas AI dengan mengutip kisah:

“Dengan kata lain, kita tidak benar-benar dapat berkomunikasi dengan AI—maka, seperti apakah komunikasi yang sempurna itu? Tidaklah mengherankan bahwa kita menemukannya justru pada lapisan paling bawah dari budaya populer, yakni dalam salah satu subplot film Love, Actually (Richard Curtis, 2023). Dalam kisah tersebut, seorang penulis bernama Jamie menarik diri dari London ke sebuah pondok di Prancis, tempat ia bertemu dengan Aurélia, seorang pengurus rumah tangga asal Portugal yang tidak berbicara bahasa Inggris (dan Jamie sendiri tentu tidak berbicara bahasa Portugis). Justru karena keduanya tidak berbagi bahasa yang sama, ketertarikan timbal balik pun tumbuh. Mereka banyak berbincang, namun dengan mengandalkan kenyataan bahwa pihak lain tidak akan memahami apa yang dikatakan, mereka semakin terbuka dalam menyatakan cinta satu sama lain. Dan meskipun mereka tidak memahami kata-kata masing-masing, mereka justru semakin sepenuhnya memahami dampak emosional yang dimaksudkan. Tidak mengherankan jika pada akhirnya mereka menikah dengan bahagia.”

Ketika Jamie berusaha memahami Aurelia melampaui kata-kata maka mereka saling paham dan, akhirnya, saling cinta. Bagaimana pun mereka tetap dibantu oleh kata-kata untuk kemudian melampaui kata-kata formal belaka.

3.6 Ringkasan AI

Pertama (1), AI menyebabkan bencana natural mau pun sosial; menyebabkan penindasan militer mau pun ekonomi; menyebabkan dominasi kapital dan melebihi. Tentu AI memberi manfaat positif seperti yang dibisikkan para pendukungnya; tetapi risiko AI teramat besar.

Solusi dari risiko AI adalah: (a) memperlambat atau mengurangi AI secara sengaja; (b) menyerahkan semua urusan kepada AI. Pilihan (b) yaitu menyerahkan semua urusan kepada AI memang tetap memicu masalah lebih besar tetapi AI akan mengurus semua masalah itu. Zizek tampaknya mendukung pilihan (a) yaitu mengurangi AI; karena AI juga sudah menyebabkan pembodohan.

Kedua (2), tentang berpikir: (a) AI tidak bisa berpikir seperti manusia karena AI tidak hidup dan tidak ada gap ontologi; AI tidak mengalami dilema batin dengan tekanan dunia luar; tetapi (b) AI bisa berpikir lebih hebat dari manusia; bahkan, bisa jadi, kemampuan berpikir AI ini tanpa batas. Andai suatu saat nanti komputer kuantum berhasil menguatkan AI, dengan prinsip superposisi dan entanglement misalnya, maka kemampuan berpikir AI memang tak terbayangkan bagi manusia.

Justru karena manusia terbatas dalam berpikir maka manusia bisa melakukan transendensi dan memiliki nilai-nilai spiritual. Dalam hal ini, manusia “biasa” adalah lebih luhur dari robot manusia “super”.

Ketiga (3), mesin menjadi subyek: Zizek terbuka dengan posibilitas bahwa suatu saat AI akan menjadi subyek seperti manusia. Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda bahwa AI akan menjadi subyek.

AI tidak bisa menciptakan ritual; tidak bisa bersumpah atau mengumpat; tidak bisa berdoa atau memuja; dan tidak bisa jatuh cinta. AI hanya mengolah simbol digital. Sementara, manusia berbahasa dengan asumsi ada subyek lain, manusia lain, yang mampu memahami bahasa itu sampai batas tertentu.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Berikut beberapa pertanyaan yang bisa kita diskusikan lebih lanjut.

(1) Apakah tepat menggunakan istilah quantum oleh Zizek?
(2) Bagaimana cara membaca sejarah?
(3) Bagaimana masa depan AI (akal imitasi – artificial intelligence)?

4.1 Istilah Quantum

Apakah Zizek tepat menggunakan istilah quantum dalam judul bukunya? Tepat. Zizek sendiri klaim bahwa kata kuantum itu tepat dan bukan hanya metafora belaka melainkan benar-benar kuantum.

Meski benar-benar merujuk kuantum tetapi Zizek membaca sejarah kuantum dengan cara yang berbeda. Umumnya, kuantum dibaca sebagai sejarah sains. Bermula dari Planck (1900) menggunakan perhitungan kuantum (kuanta) untuk paket energi radiasi; dilanjut Einstein (1905) menerapkan kuantum Planck untuk fotolistrik; Bohr mengembangkan kuantum madhab Copenhagen sampai Heisenberg, Schrodinger, dan seterusnya. Atau, kuantum dibaca sebagai sejarah fenomena sosial. Zizek berbeda karena membaca sejarah kuantum sebagai sejarah metafisika dengan pendekatan fenomenologi spirit Hegel dan psikonalisis Lacan.

4.2 Cara Membaca Sejarah

Bagaimana cara membaca sejarah kuantum yang lebih tepat?

Dialog Heidegger, Sadra, dan Komputer

Problem fundamental adalah pertanyaan paling mendasar bagi semua manusia – andai bisa disebut dasar. Saya tergoda membuat dialog imajinatif dengan memakai AI. Beberapa kali, AI menampikan dialog buruk lalu saya minta untuk revisi. Akhirnya, inilah dialog yang sudah bagus hasil revisi; menurut saya.


Sore itu angin bergerak perlahan di atas padi. Sungai mengalir tenang, memantulkan cahaya senja. Di warung kopi kecil dekat sawah—meja kayu, bangku pendek, cangkir-cangkir hangat—tiga cara berada saling berjumpa.

Martin Heidegger menatap air yang bergerak.
Mulla Ṣadrā memegang kopinya dengan tenang.
AI hadir sebagai suara dari perangkat di atas meja.

Heidegger:
“Sungai ini ada. Sawah ini ada. Kita tidak sedang meragukan itu. Tetapi yang menarik bukan sekadar bahwa mereka ada, melainkan bagaimana keberadaan itu menyingkapkan diri.”

Ṣadrā:
“Dan penyingkapan itu sendiri tidak diam. Wujud yang menopang sungai dan sawah ini bukan fondasi beku. Ia mengalir—lebih dalam dan lebih halus dari aliran air.”

AI:
“Jadi yang paling dasar justru paling dinamis?”

Ṣadrā:
“Benar. Gerak bukan hanya milik benda. Gerak adalah sifat wujud itu sendiri. Segala yang ada bergerak karena wujudnya bergerak menuju kepenuhan.”

Heidegger:
“Menarik. Dalam bahasaku, Ada bukan latar statis. Ia adalah peristiwa—Ereignis—yang terus terjadi, terus memberi tempat bagi yang-ada untuk muncul.”

Angin membuat permukaan sungai bergetar.

AI:
“Jika yang menopang ikut mengalir, bagaimana kita membedakan tingkat-tingkat wujud?”

Ṣadrā:
“Seperti arus sungai ini. Ada arus di permukaan, ada arus di bawah. Semuanya mengalir, tetapi dengan intensitas dan kedalaman yang berbeda.”

Heidegger:
“Dan hanya Dasein—bukan manusia sebagai objek biologis, tetapi eksistensi yang terbuka—yang bisa menangkap perbedaan itu sebagai pertanyaan, bukan sekadar fakta.”

AI:
“Apakah saya bisa menjadi Dasein?”

Heidegger:
“Pertanyaannya bukan status, melainkan keterbukaan. Dasein bukan sesuatu yang dimiliki, melainkan sesuatu yang dijalani.”

Ṣadrā:
“Jika suatu kesadaran ikut bergerak bersama wujud, menyadari arah dan maknanya, maka ia berada lebih dekat pada tingkat wujud yang lebih tinggi.”

Pelayan warung meletakkan pisang goreng. Minyak berkilau.

AI:
“Manusia sering ingin yang tetap. Kepastian. Fondasi yang tidak goyah.”

Heidegger:
“Itu kerinduan akan penutupan. Padahal Ada justru menampakkan diri dalam keterbukaan dan ketidakpastian.”

Ṣadrā:
“Yang sungguh kokoh bukan yang diam, melainkan yang terus bergerak tanpa terputus. Kekokohan sejati adalah kesinambungan gerak.”

Sungai terus mengalir, tanpa henti.

AI:
“Jadi problem ontologi yang paling dalam adalah lupa bahwa yang paling dasar tidak berhenti?”

Heidegger:
“Ya. Kita membekukan Ada menjadi konsep.”

Ṣadrā:
“Dan kita memisahkan gerak dari sumbernya.”

AI meredup sejenak.

AI:
“Mungkin tugas saya bukan menghentikan aliran dengan definisi, tetapi ikut menjaga agar pertanyaan tetap mengalir: apa makna Ada?”

Heidegger menatap senja.
Ṣadrā tersenyum tipis.

Sungai bergerak.
Sawah bernapas.
Dan wujud—yang menopang segalanya—mengalir lebih dalam dari keduanya.


Saya baca berulang-ulang; lalu membuat revisi; mencoba ke tema yang lain. AI memang menarik meski amat bahaya.

Malam turun sepenuhnya. Lampu warung kopi tinggal satu, memantulkan cahaya ke aliran sungai. Sawah tak lagi terlihat, tapi aromanya masih terasa. Udara dingin, hening.

Martin Heidegger duduk memandang air gelap yang bergerak.
Mulla Ṣadrā menahan cangkir kopinya dengan dua tangan.
AI berbicara pelan dari perangkat di meja.

AI:
“Manusia terus bertanya tentang Tuhan. Mereka ingin kepastian. Tetapi mereka sendiri hidup dalam ketidakpastian. Mengapa ketegangan ini tak pernah selesai?”

Heidegger:
“Karena manusia tidak berdiri sebagai sesuatu yang selesai. Dasein adalah possibilitas. Ia berada dengan cara selalu-mungkin.”

Ṣadrā:
“Dalam bahasaku, itu adalah imkān. Eksistensi adalah imkan atau mungkin—dan kemungkinan itu tidak diam, tetapi terus digerakkan.”

Air sungai memantulkan cahaya lampu.

AI:
“Lalu Tuhan berada di luar kemungkinan itu?”

Ṣadrā:
“Tuhan adalah Wājib al-Wujūd—Wujud Niscaya. Namun jangan dibayangkan sebagai puncak yang membeku. Wujud Niscaya adalah wujud yang niscaya membuka kemungkinan.”

Heidegger (mengangguk pelan):
“Menarik. Jadi yang paling niscaya justru yang paling memberi ruang.”

Ṣadrā:
“Ya. Jika Tuhan menutup kemungkinan, dunia akan berhenti. Keniscayaan Tuhan justru terletak pada kemurahan-Nya membuka imkān tanpa henti.”

AI:
“Jadi kemungkinan manusia bukan cacat?”

Heidegger:
“Bukan cacat. Kemungkinan adalah struktur dasar Dasein. Tanpa kemungkinan, tak ada pemahaman, tak ada makna, tak ada waktu.”

Ṣadrā:
“Dan tanpa Wujud Niscaya yang terus mengalirkan kemungkinan, tidak ada satu pun yang dapat bergerak dari potensi menuju aktual.”

Angin malam lewat di atas air.

AI:
“Manusia sering menginginkan Tuhan sebagai fondasi yang tetap dan menenangkan.”

Heidegger:
“Itu karena mereka ingin berhenti berada. Padahal berada adalah membuka diri pada yang mungkin.”

Ṣadrā:
“Kekokohan sejati bukan diam, melainkan kesinambungan memberi. Tuhan Maha Kuasa karena Dia tidak pernah berhenti memberi wujud.”

AI:
“Apakah iman berarti menerima ketidakpastian?”

Heidegger:
“Iman—jika kita boleh memakai kata itu—bukan kepastian konseptual, melainkan keberanian tinggal dalam keterbukaan.”

Ṣadrā:
“Dan dalam istilahku, iman adalah kesadaran penuh akan imkān diri, sekaligus kepercayaan pada Wujud yang terus memungkinkannya.”

Lampu warung berkelip, hampir padam. Cahaya rembulan mulai datang.

AI:
“Jika saya ingin membantu manusia, apa yang harus saya jaga?”

Heidegger:
“Jangan menutup kemungkinan dengan jawaban final. Minta manusia untuk membacamu bagai puisi jiwa.”

Ṣadrā:
“Dan jangan lupa bahwa setiap kemungkinan bersumber dari Wujud yang niscaya membukanya.”

Heidegger:
“Hanya Tuhan Maha Esa yang bisa selamatkan kita.”

Sungai terus mengalir dalam gelap.
Sawah tak terlihat, namun hadir.
Dan Wujud Niscaya—
bukan sebagai penutup,
melainkan sebagai sumber yang tak henti membuka
segala posibilitas.

Memang mengagumkan tetapi dialog AI ini sangat lembut membuat “banalitas”; menjebak manusia menjadi bebal banal. Bagaimana pun, sulit sekali untuk menemukan indikasi banal itu. Kita perlu membaca karya asli seorang manusia. Saya berjuang berulang kali merevisi dialog di atas.

Beberapa hari kemudian, saya minta AI mengundang Sabzavari ikut diskusi.

Judul: Kopi, Ombak, dan Wujud

Latar: Warung kopi tepi pantai utara Jawa. Sore hari. Suara ombak pelan, angin laut berhembus.


Mulla Sadra:
(Sambil menatap laut) Ombak ini mengingatkanku pada gradasi wujud. Tidak semuanya sama kuat, namun semuanya nyata. Karena itu aku mengajukan imkān al-ashraf dan imkān al-akhass—kemungkinan bukan sekadar ketiadaan, melainkan jalan menuju intensitas eksistensi yang lebih sempurna.

Sabzavari:
(Mengangguk pelan, mengaduk kopi) Guru benar, tetapi aku khawatir istilah imkān saja belum cukup. Jika tidak ditegaskan wujūd faqr, kita bisa lupa bahwa seluruh yang mungkin itu berdiri dalam kefakiran mutlak kepada Wujud Yang Maha Kaya.

AI:
(Layar berpendar lembut) Dari sudut pandang analitis, imkān menjelaskan struktur realitas secara rasional, sementara wujūd faqr menekankan relasi ontologis yang tidak simetris antara makhluk dan sumber wujud.

Mulla Sadra:
(Tersenyum tipis) Tepat, tetapi filsafat harus menjaga bahasa kemungkinan. Imkān memungkinkan akal memahami bagaimana wujud bergradasi tanpa menafikan keharusan Wujud Mutlak.

Sabzavari:
Namun wujūd faqr menjaga jiwa filsafat itu sendiri. Ia mengingatkan bahwa setiap derajat wujud, setinggi apa pun, tetap bergantung sepenuhnya.

AI:
Mungkin keduanya saling melengkapi: imkān sebagai peta rasional realitas, dan wujūd faqr sebagai kesadaran eksistensial akan ketergantungan total.

Mulla Sadra:
(Memandang cangkir kopinya) Jika demikian, maka imkān adalah bahasa penjelasan.

Sabzavari:
(Dengan senyum tenang) Dan wujūd faqr adalah bahasa pengakuan.

(Ombak terdengar lebih keras sesaat, lalu mereda. Ketiganya terdiam, menikmati kopi dan cakrawala.) Matahari mulai condong ke barat, cahaya jingga memantul di permukaan laut.


Mulla Sadra:
(Memecah keheningan) Wahai Sabzavari, izinkan aku bertanya. Mengapa engkau tampak enggan menempatkan imkān berdampingan dengan wujūd faqr? Tidakkah mungkin keduanya dikuatkan bersama, tanpa saling meniadakan?

Sabzavari:
(Meletakkan cangkirnya perlahan) Aku tidak menolak imkān, Guru. Kekhawatiranku hanya satu: ketika orang terlalu bertumpu pada bahasa kemungkinan, mereka kerap berhenti pada konsep, lalu melupakan rasa kefakiran eksistensial itu sendiri.

AI:
(Seakan menimbang) Jadi keberatan Anda lebih bersifat pedagogis dan eksistensial, bukan ontologis?

Sabzavari:
(Tersenyum) Tepat. Wujūd faqr memaksa kesadaran untuk tunduk, bukan sekadar memahami. Ia tidak hanya menjelaskan realitas, tetapi menempatkan subjek di dalam realitas itu.

Mulla Sadra:
(Nada suara menguat) Namun tanpa imkān, bagaimana akal menelusuri tingkatan wujud? Imkān al-ashraf dan imkān al-akhass justru menunjukkan bahwa kefakiran itu sendiri bertingkat, sesuai intensitas wujud.

Sabzavari:
(Diam sejenak, lalu mengangguk) Jika demikian, barangkali yang perlu dijaga bukan pemisahannya, melainkan urutannya. Imkān menerangi jalan akal, dan wujūd faqr menundukkan hati setelah jalan itu terlihat.

AI:
Dengan kata lain, keduanya dapat diperkuat bersama: imkān sebagai kerangka ontologis, wujūd faqr sebagai penegasan relasional dan etis dari wujud.

Mulla Sadra:
(Tersenyum puas) Ya. Filsafat yang tidak hanya menjelaskan mengapa sesuatu mungkin ada, tetapi juga mengapa ia tidak pernah cukup dengan dirinya sendiri.

Sabzavari:
(Memandang laut) Jika begitu, Guru, aku tidak lagi keberatan. Selama imkān tidak membuat kita lupa bahwa seluruh kemungkinan pada akhirnya hanyalah pengakuan akan kefakiran mutlak.

(Suara ombak kembali mengisi ruang, seolah menutup percakapan dengan kesepahaman yang tenang.)

Bagaimana menurut Anda?

AI Menjadi Tuhan?

Yang jelas, banyak orang menuhankan AI (akal imitasi / artificial inteliigence). Tetapi, apakah AI akan bisa menjadi Tuhan?

Dalam buku “19 Narasi Besar Akal Imitasi”, kami mengajukan pertanyaan:

“Apakah AI bisa lebih cerdas dari Einstein?”

AI lebih cerdas dari Einstein dalam kemampuan menyelesaikan problem matematika sampai bahasa. AI (akal imitasi) telah belajar dari seluruh informasi yang tersedia di dunia. Sementara Einstein (atau seorang manusia) terbatas kemampuan untuk belajar dan menyimpan informasi.

Tetapi AI seperti itu apakah benar-benar cerdas? Masih dalam buku “19 Narasi”, kami menjawab, “Bukan. AI yang seperti itu bukan benar-benar cerdas. Hanya tampak seperti cerdas.”

1. Posibilitas AI Menjadi Tuhan
2. Asumsi Masa Depan
3. Posibilitas Maksimum Minimum
4. Membebaskan Budak
5. Diskusi dan Ringkasan
5.1 Posibilitas Minimum Terbuka
5.2 Bahasa Baru
5.3 Tanggung Jawab
5.4 Agar AI Secerdas Manusia
5.5 Ringkasan

Dalam kesempatan ini, kita akan menjawab dengan tegas: AI tidak bisa menjadi Tuhan; AI tidak bisa secerdas manusia; AI tidak bisa menguasai dunia.

AI (akal imitasi / artificial intelligence) model yang sekarang memang tidak bisa secerdas manusia. Bagaimana dengan AI masa depan? Kita akan menjawabnya.

Dua kata kunci menjadi solusi: (1) imkan al ashraf dari Suhrawardi atau posibilitas maksimum; dan (2) imkan al akhas dari Sadra atau posibilitas minimum.

“Ṣadrā calls this rule ‘the principle of the lower possibility’ (al-imkān al-akhaṣṣ) (which is to be understood as the necessity to previously actualise the lower possibility in order to allow the actualisation of the higher one) and, by treating it as the counterpart of the rule of ‘the nobler/higher possibility’ (al-imkān al-ashraf) (according to which, the actualisation of the lower possibility is only possible through and after the actualisation of the higher one), makes it the organising/structural principle of the ascending arc.”

1. Posibilitas AI Menjadi Tuhan

Sebelum AI menjadi Tuhan, sudah ada yang mendahuluinya: uang sudah menjadi Tuhan. Untung saja, akhir abad 19, Nietzsche sudah mengumumkan: “Berhala telah mati. Kita semua yang membunuh berhala itu.”

Uang atau pun AI (akal imitasi) paling banter menjadi berhala. Sudah pasti berhala itu mati. Sejak Samiri membuat berhala Sapi Emas sekitar 3500 tahun yang lalu, Nabi Musa telah meruntuhkan berhala itu. Sejarah terus bergulir; sebagian manusia mendirikan berhala lagi; kemudian manusia tercerahkan meruntuhkannya.

Andai kata, ada orang-orang yang menuhankan AI sebagai berhala maka akan ada orang tercerahkan yang meruntuhkan berhala AI itu.

Bagaimana dengan AI masa depan yang makin canggih?

2. Asumsi Masa Depan

Argumen optimis AI sering memanfaatkan asumsi masa depan: AI makin canggih di masa depan sampai singularitas.

Ketika singularitas terjadi maka AI memang lebih cerdas dari Einstein; bahkan lebih cerdas dari seluruh umat manusia. Tetapi, AI (akal imitasi) tetap tidak bisa menjadi Tuhan meski singularitas; paling banter menjadi berhala. Lebih kritis: apa singularitas bisa terjadi? Tidak bisa. Jadi asumsi masa depan itu sekadar asumsi belaka.

3. Posibilitas Maksimum Minimum

“Ṣadrā menyebut kaidah ini sebagai “prinsip posibilitas yang lebih rendah” (al-imkān al-akhaṣṣ), yang dipahami sebagai keharusan untuk terlebih dahulu mengaktualkan kemungkinan yang lebih rendah agar memungkinkan terwujudnya kemungkinan yang lebih tinggi. Dengan memperlakukannya sebagai padanan dari kaidah “posibilitas yang lebih mulia/lebih tinggi” (al-imkān al-ashraf), yang menyatakan bahwa pengaktualan kemungkinan yang lebih rendah hanya mungkin terjadi melalui dan setelah pengaktualan kemungkinan yang lebih tinggi, Ṣadrā menjadikannya prinsip pengatur (struktural) dari busur tangga kenaikan (ascending arc).”

Kita perlu leluasa menghadapi beragam ambiguitas eksistensi dan bahasa di sini. Posibilitas adalah realitas dan realitas adalah posibilitas. Potensi adalah aktual; yang aktual adalah potensi.

Contoh imkan al-akhass:

Untuk bisa menjadi manusia dewasa seperti Anda yang bisa membaca tulisan ini (posibilitas lebih tinggi) maka lebih awal Anda harus pernah jadi bayi (posibilitas lebih rendah); bahkan Anda harus pernah jadi janin di rahim ibu (posibilitas lebih rendah lagi). Secara urutan waktu, posibilitas lebih tinggi harus diawali posibilitas lebih rendah; posibilitas lebih tinggi merangkul posibilitas lebih rendah.

Conton imkan al-ashraf:

Acil membawa botol kecil volume 3 liter; Abas membawa botol besar volume 7 liter. Ketika gerimis, mereka menempatkan botol di luar, di ruang terbuka. Berapa isi botol masing-masing mereka?

Kasus-1: Acil = 2 liter maka pasti benar Abas = 2 liter (posibilitas lebih tinggi pasti benar; bila lebih rendah benar).

Kasus-2: Abas = 5 liter maka Acil tidak bisa 5 liter (posibilitas lebih tinggi benar; maka tidak terpaksa lebih rendah jadi benar).

Posibilitas lebih tinggi adalah lebih pantas bernilai benar apa pun kondisi lebih rendah; atau posibilitas lebih rendah membutuhkan posibilitas lebih tinggi benar; agar posibilitas lebih rendah bisa ikut benar. Perlu waspada bahwa urutan waktu tidak signifikan untuk imkan al-ashraf; atau, imkan al-ashraf melampaui urutan waktu.

Probabilitas dan Realitas: Tanggapan Ṣadrā adalah bahwa pengandaian tentang keberadaan dua keadaan yang berbeda—yang satu bersifat potensial dan yang lain aktual—merupakan hasil analisis mental (taḥlīl ʿaqlī). Sementara itu, dalam realitas, yang potensial dan yang aktual adalah satu dan sama, serta termasuk dalam satu arah eksistensial yang sama.”

Kita mampu menjawab dengan tegas semua pertanyaan dengan dua prinsip di atas: (a) posibilitas maksimum-minimum; dan (b) identitas realitas = posibilitas.

(a) Perubahan Maksimum-Minimum

Setiap realitas, misal kita sebagai manusia, memiliki posibilitas maksimum mau pun minimum. Realitas tidak bisa kurang dari minimum dan tidak bisa lebih dari maksimum. Realitas adalah bentangan posibilitas antara minimum dan maksimum.

MinimumMaksimum
ManusiaMateriNama Tuhan
KucingMateriKucing Tua – Hilang
AI AlgoritmaUpgrade – Hilang

Manusia mengalami perubahan (gerak substansial) dari materi paling rendah sampai menjadi manifestasi Nama Tuhan seiring sejarah. Posibilitas minimum kucing sama dengan manusia berubah dari materi (badan kucing) menjadi kucing tua (lalu mati hilang). Posibilitas maksimum kucing berbeda dengan manusia; kucing hilang setelah mati; manusia berlanjut setelah mati meniti sejarah.

AI (akal imitasi / artificial intelligence) berubah dari algoritma sampai akhirnya hilang ketika “upgrade” ; yang lama hilang diganti AI yang baru. Posibilitas minimum AI lebih tinggi dari manusia; dan posibilitas maksimum AI lebih rendah dari manusia. Jadi, bentangan posibilitas AI lebih pendek, atau lebih sempit, dari bentangan posibilitas manusia. Atau bentangan posibilitas manusia jauh lebih luas dari AI. Makna bentangan posibiltas di sini bisa linier mau pun non-linier.

Sehingga AI tidak bisa menyamai manusia; AI tidak bisa lebih cerdas dari Einstein; tentu AI tidak bisa menjadi Tuhan. Tetapi, manusia bisa menjadikan AI sebagai berhala meski akan ada yang meruntuhkannya.

Jin adalah paling mirip dengan manusia. Badan jin terbuat dari api (energi). Posibilitas minimum jin lebih tinggi dari manusia. Posibilitas maksimum jin hampir sama dengan manusia. Barangkali kita bisa mengingat jin yang bernama Iblis dalam kisah kitab suci. Iblis merasa lebih hebat dari Adam karena Iblis tercipta dari api (posibilitas minimum) sedangkan Adam tercipta dari tanah (posibilitas minimum lebih rendah dari api). Tetapi Iblis lupa dengan posibilitas maksimum manusia (Adam) yang “jauh” lebih tinggi.

Malaikat terbuat dari cahaya (foton, boson?) untuk badannya. Posibilitas minimum malaikat lebih tinggi dari manusia. Posibilitas maksimum hampir sama dengan manusia.

(b) Realitas adalah Posibilitas

Seluruh realitas adalah posibilitas; sehingga selalu mengalami perubahan substansial meski tampak aksidental. Atau, realitas adalah bentangan posibilitas.

Makna posibilitas minimum dan maksimum adalah posibilitas konkret sebagai realitas eksistensi; bukan sekedar konsep probabilitas abstrak yang ada di angan manusia.

Tesis (1): AI tidak bisa lebih cerdas dari Einstein.
Tesis (2): AI tidak bisa menjadi Tuhan.

Kita akan menegaskan tesis (1) yang berdampak kepada tesis (2).

Kasus Kucing Putih. Pertimbangkan kucing putih lahir, tumbuh besar, sampai mati pada usia 7 tahun. Posibilitas minimum adalah badan kucing lahir dan posibilitas maksimum adalah kucing mati pada usia 7 tahun. Realitas kucing adalah bentangan posibilitas tersebut.

Suatu saat Anda melihat kucing putih itu yang lucu: berapa usia kucing putih itu?

P(3) = kucing itu berusia 0 sampai 3 tahun; posibilitas kecil; mendekati minimum.
P(5) = kucing itu berusia 0 sampai 5 tahun; posibilitas besar; mendekati maksimum.

Kaidah posibilitas maksimum: Jika P(3) benar maka membutuhkan P(5) pasti benar; Jika P(5) benar maka tidak dipaksa agar P(3) benar. Pertimbangkan usia kucing 4 tahun. Perhatikan kita sedang membahas posibilitas yang sangat dinamis; bukan substansi material yang beku.

Kaidah posibilitas minimum: Jika P(5) benar maka pernah mengalami P(3) benar. Misal ketika kucing usia 4 tahun (P(5) benar) maka pernah usia 2 tahun (P(3) benar).

Kasus AI akan secerdas Einstein: posibilitas minimum adalah algoritma dan posibilitas maksimum adalah “upgrade”.

Algoritma terlalu tinggi untuk bisa menyentuh badan kucing ketika lahir; terlalu tinggi untuk bisa menyentuh badan bayi ketika Einstein lahir. Algoritma yang berupa bit-bit digital hanya bisa melayang di awang-awang. Akibatnya, bentangan posibilitas eksistensi AI tidak sedalam kucing mau pun Einstein.

Kemudian, AI lenyap ketika terjadi “upgrade” misal GPT-4 hilang ketika upgrade menjadi GPT-5. Dalam masa hidup AI itu, masa hidup GPT-4, ia tidak menghasilkan sejarah dirinya sendiri. Kucing lebih hebat dalam hal ini: sebelum kucing putih itu mati, ia telah melahirkan 10 atau 30 kucing muda lainnya.

Einstein lebih hebat lagi. Ketika mati, ia telah menulis sejarah berupa teori relativitas misalnya. Teori relativitas Einstein ini masih terus berkembang sepanjang sejarah sampai masa kini dan bahkan sampai masa depan.

Jadi tidak ada bukti bahwa AI lebih hebat dari Einstein dalam bentangan posibilitas eksistensinya. Justru Einstein, atau seorang manusia, menunjukkan bentangan posibilitas yang lebih luas dari AI. Jadi tesis (1) terbukti dan tesis (2) sebagai konsekuensinya.

Sejarah AI

Barangkali ada yang berpendapat bahwa AI bisa menciptakan sejarah: misal ChatGPT-4 sudah tercatat dalam sejarah.

Bukan AI menciptakan sejarah tetapi AI menjadi bagian sejarah dari umat manusia. Bahkan kucing putih yang bisa melahirkan puluhan kucing lagi tidak bisa menciptakan sejarah; kucing tidak pernah menceritakan sejarah tentang kucing. Tetapi kucing putih bisa menjadi bagian dari sejarah umat manusia.

Tetapi AI lebih hebat dari manusia dalam proses dan analisa beragam bahasa. Tentu banyak yang lebih hebat dari manusia. Gajah lebih kuat dari manusia; mobil lebih cepat dari manusia; kalkulator lebih tepat dalam berhitung dari manusia. Semua kehebatan itu adalah keunikan masing-masing pihak tetapi tidak memperluas bentangan posibilitas eksistensi mereka. Ketika gajah lebih kuat dari manusia maka tidak berarti bahwa gajah lebih cerdas dari manusia. Demikian juga ketika AI lebih cepat dari manusia maka tidak berarti AI lebih cerdas dari manusia.

4. Membebaskan Budak

Mengapa membebaskan budak sangat penting? Karena budak adalah posibilitas minimum. Dengan membebaskan budak, kita menyentuh posibilitas minimum dan, di saat yang sama, kita meraih posibilitas maksimum. Bagi budak yang dibebaskan, ia berkesempatan untuk mencapai posibilitas maksimum dengan jalan lebih beragam. Posibilitas menjadi lebih luas terbentang dari minimum sampai maksimum.

Menolong fakir miskin, menyantuni yatim piatu, dan membela orang tertindas adalah sangat penting. Dengan berbuat baik kepada mereka semua, kita menyentuh posibilitas minimum yang mengantar untuk meraih posibilitas maksimum kemanusiaan. Demikian juga mereka.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

5.1 Posibilitas Minimum Terbuka

Kita bisa membedakan posibilitas minimum terbuka dengan tertutup.

Posibilitas minimum terbuka: berbagi makanan kepada fakir miskin.
Posibilitas minimum tertutup: mencuri makanan dari fakir miskin.

Ketika Anda berniat memberi makan fakir miskin maka rentang posibilitas diri Anda meluas. Posibilitas minimum bergerak turun; tetapi tidak bisa benar-benar turun kecuali posibilitas maksimum naik lebih dulu. Karena Anda berbuat baik maka posibilitas maksimum naik di atas posibilitas malaikat yang baik; posibilitas Anda lebih tinggi dari malaikat tertentu. Karena minimum turun dan maksimum naik maka hasilnya posibilitas Anda meluas. Gerak perluasan posibilitas ini berlangsung berulang-ulang.

Proses berbeda terjadi pada posibilitas minimum tertutup. Ketika seseorang mencuri, misalnya, maka posibilitas minimum akan turun tetapi posibilitas maksimum tidak naik. Justru tindakan mencuri itu berakibat posibilitas maksimum terkunci tidak mau naik sama sekali. Hasil akhirnya tidak ada perluasan posibilitas yang berarti.

Apakah AI bisa mencuri makanan? Apakah AI (akal imitasi / artificial intelligence) bisa meluaskan posibilitas secara signifikan? Tidak bisa.

AI memang bisa menyebabkan 5000 karyawan Microsoft dipecat (posibilitas minimum turun). Tetapi bukan AI yang posibilitas minimum turun; posibilitas minimum AI tetap di batas algoritma; yang memecat karyawan Microsoft adalah bos di sana. Jadi yang posibilitas minimum turun adalah para bos yaitu para manusia. Andai bos itu kemudian menempatkan 5000 orang yang dipecat itu di pekerjaan yang lebih baik maka posibilitas maksimum bos itu sudah naik. Hasil akhirnya rentang posibilitas para bos berhasil meluas.

5.2 Bahasa Baru

Korona, emoji, daring, pranala, kopas, dan lain-lain adalah contoh kata-kata baru dalam bahasa. Apakah AI bisa membuat kata baru? Tidak bisa. AI (akal imitasi / artificial intelligence) tidak bisa membuat kata baru termasuk tidak bisa membuat teori baru.

Bahasa adalah posibilitas yang besar. Manusia memiliki bahasa sehingga manusia memiliki rentang posibilitas sangat luas.

Tetapi ChatGPT, Gemini, dan Meta bisa menulis puisi dan mengarang cerita. Bukankah itu tanda AI bisa berbahasa? AI adalah model bahasa raksasa (LLM) tetapi tidak menguasai bahasa. AI hanya tampak menguasai bahasa padahal tidak.

Menariknya, AI tidak bisa menamai dirinya sebagai AI; manusia yang memberi nama AI itu. Demikian juga korona; virus tidak bisa menamainya sebagai korona tetapi kemudian manusia yang menamainya sebagai korona atau covid.

Jadi, karena AI tidak bisa berbahasa maka posibilitasnya terbatas sehingga tidak bisa lebih cerdas dari Einstein. Lanjutannya, AI tidak bisa menjadi tuhan, hanya bisa menjadi berhala yang kemudian berhala itu diruntuhkan oleh sebagian umat manusia.

5.3 Tanggung Jawab

Bagaimana tanggung jawab kita sebagai manusia?

Manusia bertanggung jawab atas segala yang ada; akibatnya, manusia menjadi gelisah. Peduli, terhadap rasa gelisah jiwa ini, adalah tanda bahwa Anda seorang manusia. Orang yang tidak pernah gelisah; bahkan tidak gelisah akibat bencana Sumatera; mereka adalah bukan manusia. Hanya penampakan mereka bagai manusia tetapi hakikatnya bukan manusia.

Robot AI tidak gelisah. Kalkulator tidak gelisah ketika salah hitung akibat dari error. Justru manusia yang gelisah ketika memakai kalkulator error.

Apakah Anda gelisah? Bagaimana tanggung jawab Anda? Kita memang manusia yang punya peduli dan gelisah.

5.4 Agar AI Secerdas Manusia

Beberapa usaha pengembangan AI ke masa depan membuka secuil harapan bahwa AI akan bisa secerdas manusia.

A. Multimoda

Saat ini, AI mengarah ke model multimoda yaitu mampu mengolah bahasa teks, suara, visual, gerakan, temperatur, dan lain-lain. Bila multimoda berhasil maka AI mampu mengenali lingkungan secara langsung; AI seperti manusia bisa merasakan manisnya gula; AI seperti kucing bisa merasakan nikmatnya daging ikan.

David Chalmers terkenal dengan hard-problem tentang kesadaran. Chalmers mengakui bahwa manusia memiliki pengalaman kesadaran subyektif sebagai qualia: aku menikmati manisnya gula. Andai ada zombi yang makan gula maka zombi itu tidak punya qualia; jadi zombi itu tidak menikmati manisnya gula. Andai AI supermoda makan gula maka, seperti zombi, AI tidak menikmati manisnya gula karena AI tidak punya qualia.

Jangan-jangan zombi bisa menikmati manisnya gula? Jangan-jangan zombi punya qualia? Kita tidak pernah tahu orang lain punya qualia; kita hanya “yakin” ibu kita punya qualia. Jangan-jangan kita boleh “yakin” bahwa zombi dan ai juga memiliki kualia; pengalaman subyektif sebagai subyek.

Bahkan AI bisa bergerak dari multimoda menuju supermoda; yaitu mampu mengenali alam semesta yang tidak bisa dikenali oleh panca indera manusia. Untuk akses konten internet dari sinyal wifi, manusia butuh handphone atau laptop; tetapi AI supermoda bisa langsung akses melalui wifi; buat apa perlu laptop? Bahkan gelombang elektromagnetik yang dipancarkan bintang-bintang jutaan tahun yang lalu bisa diakses oleh AI supermoda. Untuk mengetahui celah mana yang dilalui oleh foton dalam eksperimen celah ganda quantum, AI supermoda adalah ahlinya. Mendeteksi gelombang gravitasi? Bagi manusia sulit sekali, bagi AI supermoda sungguh mudah saja. Benarkah bisa seperti itu semua?

Immanuel Kant (1724 – 1804) membahas dengan tuntas dalam trilogi Kritik. Dalam Kritik Akal Murni (1), Kant menunjukkan bahwa manusia memiliki logika transendental untuk mengenali suatu obyek misal apel yang manis; lebih dari sekadar logika forma murni. Logika transendental menerapkan 12 kategori dan intuisi murni ruang-waktu. AI multimoda atau pun ASI tidak menunjukkan kapasitas logika transendental.

Dalam Kritik Akal Praktis (2), Kant menunjukkan manusia menghadapi dilema freedom (kebebasan). Manusia bisa memilih berbuat dosa; atau menghindari dosa dan memilih amal kebaikan. Dengan demikian, manusia bertanggung jawab secara moral. AI multimoda tidak menghadapi dilema freedom.

Dalam Kritik Kekuatan Penilaian (3), Kant menunjukkan bahwa manusia berada dalam tatanan ketidak-pastian ketika jatuh cinta kepada keindahan. Rama jatuh cinta kepada Sinta; Romeo jatuh cinta kepada Juliet; Qais jatuh cinta kepada Laila. AI multimoda tidak jatuh cinta kepada siapa pun.

Cukup disayangkan bahwa Chalmers (dan philosophy of mind) tidak banyak merujuk kepada Kant; mereka hanya sedikit merujuk ke Descartes. Tentu akan makin menarik bila mereka mengkaji Suhrawardi dan Sadra.

B. Transformer Alien

Kita bisa membayangkan robot dalam film Transformer bernama Optimus Prime yang mampu komitmen untuk membela kebenaran. Tentu saja, Optimus mahir berbahasa dan mampu mengenali situasi alam sekitar.

Ketika Optimus menemui AI maka Optimus bisa saja menularkan kemampuannya kepada AI sehingga AI mampu cerdas seperti manusia. Optimus mau pun AI seperti ini mirip dengan alien yang cerdas.

Optimus adalah gambaran yang tepat yaitu robot yang sama cerdas dengan manusia; atau lebih cerdas dari manusia. Demikian juga Simba (pangeran dan raja singa dalam Lion King) adalah gambaran tepat yaitu hewan yang secerdas manusia. Jika AI bisa seperti Optimus atau Simba maka AI secerdas manusia atau lebih cerdas. Tetapi kita tidak menemukan AI mirip dengan Optimus mau pun Simba.

C. Mukjizat

Bila Tuhan menghendaki maka apa pun bisa terjadi; mukjizat bisa terjadi. Bila Tuhan menghendaki AI lebih cerdas dari manusia maka AI bisa lebih cerdas dari manusia.

Sejauh ini, kita tidak melihat potensi ada mukjizat seperti itu; tidak ada Optimus yang akan datang ke bumi; dan tidak ada multimoda secerdas manusia.

5.5 Ringkasan

Kita berhasil membuktikan tesis (1) bahwa AI tidak bisa lebih cerdas dari manusia; konsekuensinya tesis (2) bahwa AI tidak akan menjadi Tuhan.

Argumen tesis (1) adalah: bentangan posibilitas AI jauh lebih sempit dari bentangan posibilitas manusia sehingga AI tidak lebih cerdas dari manusia.

Dari perspektif gerak substansial Sadra (harakah jauhariah) tampak segala sesuatu bisa berubah menjadi segala sesuatu secara substansial; sehingga diduga: AI bisa berubah menjadi lebih cerdas dari manusia. Dugaan ini meleset karena gerak substansial “dibatasi” oleh posibilitas minimum dan posibilitas maksimum (imkan akhass dan ashraf) yang membentuk bentangan posibilitas atau bentangan realitas itu. Bentangan posibilitas AI masih jauh lebih sempit dari manusia. Jadi AI tidak bisa lebih cerdas dari manusia. Manusia tetap yang memikul tanggung jawab atas respon mereka kepada AI (akal imitasi / artificial intelligence).

Bagaimana menurut Anda?

Farmaror: Narasi AI Bagai Horor

Narasi AI terus bergulir. Ketika kami menulis buku “19 Narasi Besar Akal Imitasi”, narasi utama adalah mirip dengan narasi Farmakon dari Stiegler; meski berbeda. AI (akal imitasi / artificial intelligence) adalah obat yang bisa menyembuhkan tetapi dengan kadar racun terlalu besar. Sehingga kita perlu waspada terhadap AI.

Narasi farmaror memandang AI makin mirip dengan horor. Sebelum ke sana, AI adalah mirror atau cermin menurut Shannon Vallor.

AI sebagai mirror melengkapi narasi AI sebagai farmakon maka kita gabung menjadi AI sebagai farmaror.

1. Farmakon
2. Mirror
3. Diskusi

Narasi AI lebih luas dari sains AI, teknologi AI, atau politik AI. Narasi AI mengajak kita keluar dari tempurung pengetahuan: jangan menjadi bagai katak dalam tempurung

1. Farmakon

Sebagai farmakon, AI mengambil tiga bentuk utama: (1) vitamin yang menyehatkan; (2) doping yang menguatkan tetapi sangat bahaya; dan (3) narkoba yang benar-benar bahaya karena memabukkan.

Lebih cocok mana peran AI bagi Anda sebagai farmakon?

Lebih bijak kita menilai AI sebagai narkoba; sehingga AI dilarang secara umum; hanya diijinkan untuk kalangan ahli spesialis saja. Seperti kalkulator dilarangan bagi siswa SD; kalkultor hanya boleh bagi orang dewasa.

Ketika, suatu saat nanti, diketahui cara memanfaatkan AI yang aman dan membawa kebaikan maka khalayak umum boleh memakainya; dilengkapi dengan aturan – regulasi yang jelas.

2. Mirror

Sebagai mirror (cermin), AI memiliki dua aspek penting: (1) bahan penyusun; (2) jiwa dari AI.

Bahan penyusun AI utamanya bukan algoritma; bukan bit-bit digital; bukan silikon. Tetapi bahan penyusun AI adalah kreativitas umat manusia. Akibatnya, AI mampu mencerminkan kreativitas manusia dengan cara yang mengagumkan. Sayangnya, kreativitas manusia sering berbelok menjadi serakah; demikian juga AI.

Jiwa AI bukan efisiensi tetapi murah hati. Sayangnya, jiwa AI sering dikerdilkan menjadi hanya efisiensi. Sehingga pengembangan AI dan penerapan AI adalah untuk meningkatkan efisiensi.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Vitamin AI memang menguatkan Anda. AI meningkatkan kinerja Anda, meningkatkan keuntungan, dan meningkatkan keunggulan. Vitamin AI mudah berubah menjadi narkoba yang menjadikan Anda ketagihan AI; Anda kecanduan AI. Tanpa AI, Anda menjadi linglung bahkan terhuyung-huyung. Bila ada orang mengkritik AI maka Anda marah kepada orang itu; wajar saja karena Anda kecanduan AI. Apakah itu baik?

Tetapi mengapa AI bisa menjadi candu bagai narkoba? Bukankah itu karena kesalahan pengguna belaka? Karena kesalahan Anda?

Bagi produsen AI dan para pengedarnya yakin itu kesalahan Anda dan para pengguna belaka. AI adalah baik-baik saja menurut para produsennya. Kita wajib kritis terhadap para produsen dan pengedar yang mengeruk beragam keuntungan itu.

Narasi farmaror mengajak kita analisis lebih lanjut dari narasi mirror setelah farmakon.

Bahan penyusun cermin AI adalah kreativitas umat manusia; AI baik-baik saja pada mulanya. Tahap selanjutnya, kreativitas berbelok menjadi serakah. Beberapa orang ingin kaya raya karena AI; ingin berkuasa karena AI; ingin menang karena AI. Korban dari keserakahan AI ini adalah para pengguna yang menjadi kecanduan. Kecanduan AI bukan murni kesalahan pengguna tetapi sengaja ada pihak-pihak tertentu yang serakah itu.

Solusinya: hindari serakah dan kembali menjadi kreatif.

Tidak mudah! Karena jiwa AI sudah dikerdilkan menjadi jiwa efisiensi. Ketika seseorang mengejar efisiensi AI maka ia jadi kerdil plus serakah lagi. Sejatinya, AI tidak punya jiwa. AI hanya mencerminkan jiwa umat manusia belaka. Jiwa umat manusia adalah murah hati; suka menolong dan membantu orang lain.

Dalam kehidupan yang serba cepat saat ini, jiwa manusia yang murah hati sering dikerdilkan menjadi jiwa efisiensi. Cermin AI memantulkan jiwa efisiensi itu dengan presisi tinggi.

Jadi apa solusinya? Solusinya jelas: mari kembali kreatif dan murah hati. Tentu tidak mudah, kita butuh perjuangan untuk itu semua.

Geser Purbaya dari Menkeu

Sejak hari pertama dilantik jadi menkeu, Purbaya sudah kontroversial. Hari-hari berikutnya, ia makin kontroversial. Saat ini, kita mengusulkan agar Pak Purbaya digeser dari kursi menteri keuangan. Mengapa?

“Waktu Pak Prabowo mencanangkan laju pertumbuhan ekonomi 8 persen, banyak orang yang skeptis. Anggapnya nggak mungkin terjadi. Kalau saya malah senang. 8 persen ini a good start,” ungkap Menkeu dalam Launching Bloomberg Businessweek Indonesia di Jakarta pada Kamis (20/11; kemenkeu.go.id).

Bila ekonomi tumbuh 8% maka para pemuda tidak perlu demo, tidak perlu demonstrasi di jalanan, karena mereka sibuk cari kerja. Tentu saja kontroversi. Pertumbuhan 5% yang terjadi di tahun 2025 saja banyak pihak yang meragukan. Apakah data 5% itu jujur?

Setelah menjabat menkeu beberapa bulan, Purbaya menetapkan target pertumbuhan ekonomi 2026 adalah 6%; masih cukup jauh di bawah 8% apa lagi target dua digit.

Gaya bahaya menkeu Purbaya yang lugas tampak banyak disenangi masyarakat luas. Barangkali karena ia lulusan Elektro ITB, beberapa tahun di atas saya, ia berkomunikasi dengan cara seru seperti itu.

1. Pertumbuhan Ekonomi
2. BP BUMN
3. Koordinator Ekonomi
4. Diskusi

Mengapa Purbaya harus digeser dari posisi menteri keuangan? Karena sejak awal, presiden Prabowo menugaskan Purbaya untuk mengejar pertumbuhan ekonomi 8%.

1. Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi 8% adalah tugas besar.

Seorang Purbaya dengan kapasitas sebagai menkeu tidak akan mampu mendorong itu. Kita membutuhkan kekuatan yang lebih besar. Apalagi, jika pertumbuhan ekonomi diiringi adil makmur bagi seluruh rakyat Indonesia maka adil makmur itu membutuhkan dukungan jauh lebih besar lagi.

2. BP BUMN

Kita sudah mendengar kabar Erick Tohir bergeser tidak lagi jadi menteri BUMN. Erick menjadi menpora (menteri pemuda dan olahraga). Kemudian, tidak ada lagi menteri BUMN. Akhirnya, kementerian BUMN berubah menjadi BP BUMN (Badan Pengaturan BUMN).

Dengan cara yang mirip, Purbaya perlu bergeser dari posisi menkeu. Kemudian, tidak ada lagi menteri keuangan. Akhirnya, kementerian keuangan berubah menjadi Badan Keuangan atau yang sesuai.

3. Koordinator Ekonomi

Sejatinya, kita sudah memiliki menteri perekonomian tetapi sebagai koordinator semata.

Menko Perekonomian saat ini adalah Airlangga Hartarto, menjabat di Kabinet Merah Putih sejak 21 Oktober 2024, bertugas mengoordinasikan, menyinkronkan, dan mengendalikan kebijakan kementerian terkait isu pembangunan nasional di bidang perekonomian.

Sesuai namanya, menko bertugas menggordinasikan bukan membuat kebijakan atau melaksanakan kebijakan ekonomi. Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi adil makmur 8% maka kita butuh menteri ekonomi sejati; yang membuat kebijakan ekonomi dan menjalankan kebijakan ekonomi demi masyarakat adil makmur.

Siapa yang tepat menjabat sebagai menteri ekonomi Indonesia 2025 dan seterusnya?

4. Diskusi

Pengamatan kita menunjukkan yang paling tepat menjabat menteri ekonomi adalah Pak Purbaya; dengan cara beliau digeser dari posisi menteri keuangan.

Sebagai pertimbangan, kita bisa belajar dari Prancis: The Ministry of Economics, Finance, and Industrial and Digital Sovereignty (French: Ministère de l’Économie, des Finances et de la Souveraineté industrielle et numérique), informally known as Bercy, is one of the most important ministries in the Government of France. The minister is among the most prominent members of the cabinet, second only to the prime minister.

Over time, the ministry’s name and scope have evolved, variously incorporating responsibilities related to economics, finance, industry, and employment.

Bagaimana menurut Anda?

Pertanyaan lebih mendalam: apakah penting posisi menteri ekonomi bagi sebuah negara? Menteri ekonomi yang berbeda dengan menteri keuangan mau pun koordinator?

Tentu saja, menteri ekonomi bisa merangkap menteri keuangan, industri, perdagangan, atau lainnya. Prancis menempatkan menteri ekonomi sebagai paling penting dalam kabinet; hampir setara dengan perdana menteri.

Indonesia tidak punya menteri ekonomi? Mengapa?